Keluarga Dalam Cengkraman Kapitalis - Fokussumatera

Breaking News

Keluarga Dalam Cengkraman Kapitalis



                  Oleh: Yuli Ummu Raihan
      (Member Akademi Menulis Kreatif)

Fokussumatera.com - Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga.

Sepenggal lirik lagu keluarga cemara diatas menggambarkan bagaimana arti sebuah keluarga. Keluarga sebagai benteng utama dan  pertama untuk kehidupan manusia.

Tapi mirisnya saat ini keluarga sudah kehilangan fungsinya baik sebagai sekolah, tempat perlindungan, sumber kasih sayang. Beragam kasus justru berawal dari keluarga, tindakan kejahatan yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga, pelecehan seksual, dan yang lainnya. Bahkan banyak pembunuhan yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga.

Memiliki anak adalah dambaan setiap keluarga, jika dahulu orang bangga memiliki banyak anak, saat ini justru takut, enggan atau bahkan tidak ingin memiliki anak karena menganggap beban, menambah masalah dll.

Ditambah propaganda kapitalis bahwa jumlah penduduk dunia sudah over, kekhawatiran tidak akan tercukupi kebutuhan. 

Allha telah menciptakan bumi ini berikut Isinya untuk manusia, menjamin tercukupi semua kebutuhan manusia. Hanya saja manusia berpikir jika jumlah penduduk terus meningkat tidak ditekan maka akan jadi masalah. Maka atas alibi diatas dibuatlah program keluarga berencana (KB).

Dilansir oleh,Media oposisi.com  bahwa tanggal 3-6 Juli 2019 Kalsel akan dipadati 15 ribu tamu dari 33 provinsi untuk memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-26 yang mengusung tema " Hari Keluarga, Hari Kita Semua" dan slogan " Cinta Keluarga, Cinta Terencana".

Dalam web BKKBN (keluargaindonesia.id) disebutkan bahwa tanggal 29 Juni adalah hari dimulainya Gerakan KB Nasional. Tanggal itu juga dinyatakan sebagai hari Kebangkitan Keluarga Indonesia.
Harganas adalah lanjutan dari program KB dengan tujuan pembatasan angka kelahiran.

Saat ini masih banyak keluarga kurang sejahtera, maka ini dijadikan alasan bagi kapitalis untuk membatasi kelahiran. Bahkan ini dipropagandakan dengan masif, rapi dan terstruktur bahkan cendrung dipaksakan.

Diantaranya terlihat dari pembataaan jumlah anak tertanggung bagi para ASN, slogan dua anak lebih baik, lelaki perempuan sama saja, banyak anak merepotkan, seringnya melahirkan akan memberi efek buruk pada kesehatan ibu, dan propaganda busuk lainnya.

Masalah ekonomi dianggap dipicu karena melonjaknya angka kelahiran, sehingga muncul ketidakseimbangan laju pertumbuhan manusia dan alat pemuas kebutuhannya.

Ketakutan bahwa ketersediaan sumber daya alam tidak akan cukup jika angka pertumbuhan penduduk tidak ditekan.

Propaganda lain yaitu meningkatkan jumlah dunia produksi, sehingga memerlukan banyak tenaga manusia, maka prinsip ekonomi modal sekecil-kecilnya tapi berharap untung besar maka dicarilah tenaga kerja yang murah yaitu perempuan.

Perempuan didorong untuk terjun ke sektor publik, terlibat dalam perekonomian, dan jadi objek kapitalis. Ide kesetaraan jender diangkat, dimana perempuan dianggap berharga jika bisa terjun ke sektor publik, memiliki peran dan kesempatan yang sama dengan kaum pria. Menganggap perempuan harus berdaya ekonomi, mandiri, tidak hanya mengurung diri dirumah jadi istri dan ibu rumah tangga semata.

Maka diperlukan dukungan dari semua anggota keluarga untuk mendukung kiprah ibu di sektor publik. Maka dalam Harganas tahun ini, didatangkan khusus seorang master dongeng anak kak Bimi untuk mengedukasi orang tua dan kakek nenek tentang cara mendidik anak (dispersio.kalselprov.go.id).
Ketika kakek dan nenek bisa diandalkan mendampingi anak, maka ibu akan lebih leluasa bekerja. Berbagia peluang usaha, tawaran pekerjaan ditawarkan pada Ibu, hingga partisipasinya makin tinggi.

Semakin banyak dan lama waktu seorang perempuan diluar rumah maka ini berdampak pada keutuhan keluarga.
Beragam masalah muncul, anak kekurangan perhatian dan kasih sayang, hanya dicukupi kebutuhan fisiknya seperti makan minum, sandang pangan, sementara psikisnya kurang, dan mencari pelampiasan diluar rumah. Suami juga merasa tidak dihargai, berkurangnya waktu berkualitas bagi suami dan istri, sehingga berakibat kejenuhan dalam rumah tangga, tertukarnya peran suami dengan istri, dan tak sedikit berujung pada perceraian.

Hingga tahun 2018, angka perceraian makin meningkat, dan didominasi oleh gugatan cerai dari pihak istri.

Menurut psikolog Kemang Medical Care, Rahmi Dahnan, salah satu penyebab utama besarnya angka gugat cerai adalah pendapatan istri yang lebih besar dari suami (tempo,co.id, 21/05/2019).

Ketika keutuhan keluarga mulai goyah, anak-anak kekurangan kasih sayang dan kebanyakan melampiaskan pada hal-hal negatif seperti narkoba, kenakalan remaja, seks bebas, kecanduan game, bahkan tindakan kriminal.

Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sejak tahun 2011-2018 tercatat 11.116 anak Indonesia terangkut kasus kriminal (sindonews.com, 14/5/2019). Ini yang tercatat, dan mungkin angkanya terus bertambah.

Masalah lain adalah serbuan produk barat yaitu 3F3S yairu food, fashion, fun, seks, sport, song. Gaya hidup barat yang liberal dan sekuler diadopsi oleh generasi muda, mereka disibukkan dengan 6 perkara diatas, sehingga berefek pada tingkah laku dan pemikiran mereka.
Semua itu mubah saja selama tidak bertentangan dengan syariat Islam, namun faktanya semua itu jauh dari nilai-nilai Islam bahkan bertentangan.

Dalam islam diatur segala macam problematika kehidupan, dicontohkan bagaimana sikap seorang Muslim, baik tingkah laku, berpakaian, makanan, dan gaya hidup. Tapi saat ini justru orang Islam tidak PD dengan simbol dan ciri khas agamanya sendiri.

Islam mengatur bagaimana membangun semua keluarga, dimulai sejak mencari pasangan hidup, pra nikah, hingga bagaimana menjalankan kehidupan rumah tangga.

Allah berfirman dalam Alquran surat At tahrim ayat 6" Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluarga mu dari api neraka yang bahan bakunya adalaha manusia dan batu".

Rasulullah menganjurkan memiliki banyak anak dengan memilih pasangan yang subur sebab beliau kelak akan bangga dengan jumlah umatnya yang banyak.

Kesejateraan keluarga tidak ada hubungannya dengan banyak atau sedikitnya anak keran setiap anak itu sudah dijamin rizkinya. 

Kesulitan hidup saat ini bukanlah karena pertumbuhan jumlah penduduk, tapi lebih kepada salah kelola negara, distribusi harta yang tidak merata.Kekayaan menumpuk pada sekelompok orang, bahkan dilansir oleh Liputan6.com pada tahun 2018 memperkirakan tahun 2030 nanti,  1% orang terkaya di dunia kan menguasai 64% kekayaan dunia.

Lihatlah hari ini ketika sebagian orang memikiki kekayaan melimpah  koleksi mobil, rumah,dan barang-barang mewah, sementara sebagian besar lain hidup serba kekurangan.

Maka KB bukanlah solusi, apalagi memberdayakan perempuan, masalahnya ada pada aturan hidup yang tidak sesuai dengan Islam.

Dalam Islam kewajiban mencari nafkah itu menjadi tanggung jawab suami, jika ia kesulitan atau tidak mampu karena alasan syar'i maka kewajiban itu berpindah kepada saudara lelakinya, masyarakat, dan negara.

Negara akan mempermudah dengan membuka lapangan pekerjaan nya luas, menciptakan lingkungan yang kondusif agar kelancaran usaha terjamin, mempermudah administrasi, perizinan usaha, bahkan memberi bantuan modal sehingga para suami tidak lagi kesulitan mencari nafkah untuk keluarganya, istri bisa fokus pada peran utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, bisa mengembangkan potensinya, terjun ke kancah publik untuk memberi manfaat dan jasa seperti sebagai tenaga pendidik dan kesehatan, atau berdakwah membangun usaha menjadi khadijah milineal.

Maka ketika keluarga utuh, kesejahteraannya terjamin maka akan lahir anak-anak yang berkualitas, dikuatkan dengan sistem pendidikan yang bagus berbasis Islam, masyarakat yang mendukung, serta peran negara yang total.

Maka keluargaku surgaku, istana paling indah, harta paling berharga insya Allah akan terwujud wallahu a'lam.