Kondisi Islam Pasca Runtuhnya Khilafah - Fokussumatera

Breaking News

Kondisi Islam Pasca Runtuhnya Khilafah



               Oleh: Nelliya Ummu Zahra           (Member  AMK&Muslimah Peduli Generasi)

Fokussumatera.com - Siapa yang bisa lupa dengan malapetaka tanggal 3 maret 1924, peristiwa penghapusan sistem kekhilafahan Islam oleh Mustafa Kemal Atarurk seorang keturunan yahudi dan antek inggris.

Peristiwa ini sungguh mengguncang kaum muslimin, pasalnya Islam tegak sempurna dengan khilafah. Khilafah ada sistem pemerintahan dalam Islam yang didalamnya diterapkan Islam secara kaffah.

Ketiadaannya membuat kaum muslimin tercerai berai, tersekat-sekat, dan hidup tanpa penjagaan.

Seperti yang diungkapkan oleh Imam al-Ghazali: "Agama dan kekuasaan (ibarat) saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu tanpa pondasi niscaya akan runtuh dan sessuatu tanpa penjaga niscaya lenyap"(Al-Ghazali Al-Iqtishad fi al-I'tiqad).

Kaum muslimin bagai buih dilautan, negeri-negeri muslim terpecah menjadi beberapa bagian dan tersekat oleh nasionalisme. Akibatnya kaum muslimin menjadi lemah meskipun secara jumlah sangat besar. Membuat kaum muslimin tidak berdaya atas Barat dan penjajah

Seperti yang menimpa saudara kita Palestina, Suriah, Rohingya, Afganistan, Irak, dan lainnya.
Tak ada lagi perisai yang melindungi mereka hingga nestapa itu masih berlangsung hingga hari ini.

Serangan demi serangan yang dilakukan oleh zionis Israel terhadap saudara muslim di Suriah dan Palestina tak kunjung usai. Para penguasa negeri muslim tak bisa bertindak, mereka hanya cukup mengecam dan mengutuk perbuatan zionis Israel tersebut tanpa mampu membebaskan saudaranya.

Darah kaum muslimin terus tertumpah tanpa bisa dicegah. Dunia seakan diam dengan kejadian  tersebut. Dalam Islam nyawa muslimin sangatlah berharga. Dan membunuh tanpa alasalan yang haq termasuk dosa besar. Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah melarang dengan firman-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. [al-Isrâ`/17:33)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasûlullâh, apakah itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Syirik kepada Allâh, sihir, membunuh jiwa yang Allâh haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. [HR al-Bukhâri, no. 2615, 6465; Muslim, no. 89].

Tidak berhenti sampai disini, bercokolnya sistem kapitalisme yang diadopsi oleh negero-negeri muslim pun menambah derita dan cengkeraman penjajah.  Sumberdaya alam pun tak luput dari jarahan mereka. Kaum muslimin yang mempunyai kekayaan alam di negerinya hanya bisa gigit jari.
Kekayaan alam yang melimpah telah berpindah kepemilikan kepada penjajah, para kapital semakin menggurita menguatkan posisi mereka atas negeri-negeri muslim.
Sejatinya kekayaan alam wajib dikelola oleh negara, kemudian hasilnya didistribusikan kembali kembali kepada rakyat. Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah Saw.


Rasulullah Saw bersabda: "Kaum muslimin bersekutu dalam tiga perkara: padang rumput, air, dan api".(HR.Abu Dawud, Ahmad,al-Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah).

Saat ini setelah khilafah tidak ada,  kekayaan alam  diambil alih oleh Negeri atau pun swasta didalam maupun luar negeri.

Rakyat merasakan hidup semaki sulit dan tercekik. Memiliki kekayaan alam yang melimpah, tak lantas membuat rakyat hidup sejahtera jika kekayaan alam itu sendiri tidak dikelola oleh negara, dan hasilnya didistribusikan kembali kepada rakyat.

Sistem Islam dalam bingkai khilafahlah yang mampu mengakhiri segala derita panjang kaum muslimin yang tak berkesudah ini. Dalam Islam darah-darah kaum muslimin dijaga. Sumberdaya alam dikelola negara kemudian hasilnya diberikan kembali kepada rakyat. Seoranh khalifah atau Imam bertanggungjawab penuh atas urusan rakyatnya.

Wallahu'alam bishshawab