Breaking News

Krakatau Steel Merugi, Raksasa Baja Melaju



           Oleh: Wulan Amalia Putri, SST
          (Staf Dinas Sosial Kab. Kolaka)

Fokussumatera.com - Lama tak terdengar, Krakatau Steel hadir dengan opini kebangkrutannya. Sebagai informasi, kisah kerugian yang dialami PT Kratakau Steel Tbk (KRAS) dimulai pada tahun 2012 silam, di mana KRAS mencatat kerugian sebesar US$19,56 juta. Kemudian berlanjut ke tahun berikutnya, di tahun 2013 KRAS merugi sebesar US$13,6 juta, tahun 2014 sebesar US$154,185 juta, dan puncaknya di tahun 2015 sebesar US$326,514 juta. Kerugian tersebut terus terjadi hingga tahun 2016 dan 2017, masing-masing tercatat sebesar US$180,724 juta dan US$86,09 juta. Adapun sampai dengan akhir tahun 2018 lalu, akumulasi kerugian yang diderita KRAS mencapai US$77,163 juta.Kemudian mengalami penurunan pendapatan sebesar 13,82% pada Triwulan pertama 2010. (wartaekonomi.co.id, 11/4/19).

Terhadap situasi ini, KRAS terancam delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Delisting sendiri adalah suatu tindakan besar dalam sebuah industri, meskipun baru ancaman dan masih akan dilihat perkembangannya. Sejumlah asumsi diambil berkaitan dengan kerugian menahun ini. Adanya uang panas yang mengalir pada pimpinan perusahaan juga diduga turut andil membawa nasib naas pada KRAS. Sebab, jika ditilikpada perkembangan industri baja Indonesia, tidak seharusnya KRAS mengalami kerugian.

KRAS Terungkap, Asing Meraup Untung

Drama kerugian menahun yang dialami KARS masih terus dianalisis. Pasalnya, peluang industri baja Indonesia semakin berkembang. Saat ini, Indonesia dapat dengan leluasa mengekspor produk baja ke Malaysia. Di sisi lain, permintaan baja domestik juga semakin meningkat. Sebagai catatan, dari Januari hingga Desember 2018, permintaan produk baja di Indonesia cenderung meningkat dengan adanya peningkatan di sektor industri yang menggunakan material baja. Diantaranya sektor otomotif yang meningkat 7.99% dengan jumlah produksi mobil sebesar 1.152.641 unit per tahun (Gaikindo, Januari 2019). Hal ini diikuti dengan sektor konstruksi dan infrastruktur yang juga diproyeksikan akan semakin meningkat di tahun 2019. (wartaekonomi.co.id, 2/5/19).

Di bidang infrakstur, negara juga membutuhkan bahan baku baja. Menurut keterangan Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Suahasil Nazara, tahun ini, anggaran untuk infrastruktur sebesar Rp 213 triliun atau sekitar 10% dari total belanja negara Rp 2.095,7 triliun. Besarnya proyek infrastruktur pemerintah dan tren kenaikan harga baja diperkirakan mendongkrak penjualan baja maupun profitabilitas perusahaan-perusahaan di subsektor manufaktur ini. Tahun 2016, pasar baja domestik diperkirakan tumbuh 3,5-7% menjadi 14,5-15 juta ton dari tahun lalu 14 juta ton.

Pasokan baja dari pemain lokal juga diperkirakan naik dari 40% menjadi 50% dari total permintaan nasional, didorong mandatori penggunaan baja lokal di proyek pemerintah."Pasar baja domestik tahun ini bisa tumbuh 5% mendekati 15 juta ton, dengan pasokan baja lokal diharapkan mencapai 7,5 juta ton atau 50% dari total pasar. Seiring dengan kenaikan permintaan, pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) pabrik baja diperkirakan naik ke level 80% dari tahun lalu 30-40%. Adapun kapasitas produksi terpasang industri baja nasional mencapai 9 juta ton per tahun," papar Hidayat. (kemenperin.go.id, 24/6/19)

Kendati demikian, pada periode ini perseroan yang berkode saham “KRAS” ini hanya mencatatkan pendapatan sebesar US$419 juta. Padahal di periode yang sama tahun lalu, Krakatau Steel meraup pendapatan US$486,2 juta.Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim mengatakan, torehan negatif ini akibat dari penurunan volume penjualan dan penurunan harga produk baja secara global.

Selama ini, Kralatau Steel memfokuskan penjualan pada Harga Baja Canai Panas (Hot Rolled Coil/HRC).  Harga HRC per ton tertinggi tercapai US$755 di Januari 2019 dan terendah US$554 di bulan Maret 2019 walaupun secara keseluruhan harga HRC berkisar antara US$650 – US$700 pada Q1 2019. KARS sendiri mengalami penurunan volume penjualan HRC 2,24% YoY menjadi US$643 per ton dan Wire Rod 3,14% YoY menjadi US$612 per ton, namun tidak demikian dengan CRC yang meningkat 5,13% menjadi sebesar US$739 per ton.Penurunan penjualan ini berpengaruh pada laba kotor sebesar US$11,75 juta, menurun dibanding periode sebeleumnya sebesar US$66,79 juta. Sementara rugi operasi Perseroan mencapai US$36,2 juta pada Q1 2019 dibanding dengan periode yang sama tahun lalu yang mencatat laba operasi US$21,2 juta. Penurunan kinerja operasi ini dipengaruhi oleh lebih tingginya biaya operasi selama periode berjalan.

Proses panjang geliat KARS untuk kembali bangkit, kini semakin terjungkal dengan adanya impor baja dari Tiongkok. Hal ini menyebabkan pasar baja domestik semakin terdesak. Data South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI) memperlihatkan, ekspor baja Cina ke Indonesia pada kuartal I-2018 menguat 59% year-on-year (yoy) menjadi 250.783 metrik ton. Di periode yang sama, ekspor baja Tiongkok ke negara ASEAN lainnya justru menyusut.Impor asal Tiongkok didominasi produk baja hot rolled coil, plate, cold rolled coil, section dan wire rod. Namun, meski umumnya menurun, justru impor baja ke Indonesia semakin meningkatAda dugaan, sebagian besar produk baja impor itu masuk Indonesia dengan cara unfair trade. Salah satunya dengan penyalahgunaan kategori pos tarif baja paduan.

Sejumlah pihak menyoroti temuan puluhan ribu ton  produk baja HRC murah yang beredar di wilayah Jawa Timur dan Banten. Berdasarkan label produk yang melekat pada coil, diduga barang tersebut berasal dari PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry, yang merupakan grup perusahaan Tsingshan, asal Tiongkok. Pada label tersebut juga tidak ditemukan adanya logo SNI maupun keterangan Nomor Registrasi Produk (NRP). Sebagaimana diketahui bahwa lokasi pabrik PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry sendiri berada di Morowali, Sulawesi Tengah.

Miris rasanya, saat KARS memberhentikan ribuan karyawan secara bertahap hingga tahun 2022. Keputusan ini diambil berdasarkan surat Nomor 73/Dir.sdm-ks/2019 perihal Restrukturisasi Organisasi PT KS (Persero) terbatas. Dalam surat tertulis, hingga Maret 2019, jumlah posisi di PT KS sebanyak 6.264  posisi dengan jumlah pegawai sebanyak 4.453 orang. Hingga tahun 2022 mendatang, KS akan melakukan perampingan posisi menjadi 4.352 posisi dengan pengurangan pegawai berkisar di angka 1.300 org. Tercatat pada pekan lalu, sebanyak 140 orang pegawai telah dirumahkan.

Masih prihatin dengan keadaan ini, Perusahaan asal Cina akan segera membangun pabrik baja di kabupaten Kendal, Jawa Tengah, dengan nilai investasi 2,54 miliar dolar AS. Diperkirakan bahwa pabrik tersebut adalah yang terbesar di Asia karena mampu menyerap 6.000 hingga 10.000 tenaga kerja. Pabrik ini direncanakan akan beroperasi 2019 atau paling tidak 2020. Mengenai tenaga kerja, pihak Hebei Bishi Steel Group menjamin akan memprioritaskan warga sekitar lokasi pabrik baja di Kecamatan Patebon dan kabupaten Kendal sebagai tenaga kerja. Geliat kebangkitan industri baja lokal akan semakin lemah dengan industri baja asing.

Industri Dalam Islam

Industri dalam Islam termasuk dalam instrumen yang strategis. Industri, seperti industri baja misalnya, akan dipandang sebagai suatu sarana yang dapat digunakan untuk memperkuat negara dalam dakwah dan jihad. Karena itu,kita temukan bahwa dalam Islam terdapat pandangan yang khas mengenai politik industri negara dan revolusi industri.
Dalam politik industri negara, pengelolaan dan penggunaan  industri akan diatur dengan baik untuk menjamin kemandiriannya.Karena itu, harus dilakukan revolusi industri, di mana kebijakan di bidang perindustrian yang selama ini bertumpu pada industri konsumtif, diubah menjadi industri strategis. Sekaligus menjadikan industri strategis ini sebagai basis perindustrian. Untuk mewujudkannya hanya ada satu cara, yaitu membangun industri peralatan atau membangun industri yang memproduksi alat-alat, yang biasanya dikenal dengan industri alat berat. Dari industri inilah kemudian industri-industri lain bisa dikembangkan.

Kemandirian industri inilah yang menjadi titik sentral politik industri. Impor dalam industri bukanlah pilihan dalam politik industri Islam.
Sementara itu, dari aspek revolusi industrinya, maka ini merupakan perubahan mendasar di bidang industri di dalam negeri dan seluruh level yang dibutuhkan oleh industri peralatan, pertahanan dan keamanan, elektronik, satelit dan lain-lain. Begitu Islam mengatur, industri berat ini harus seketika itu juga dibangun, dan tidak boleh santai sebelum benar-benar menguasai hulu, bahkan kalau perlu hingga hilirnya.Sebab itu, negara harus membuka pusat-pusat kajian dan riset, pelatihan dan laboratorium untuk mengajarkan sains industrial enginering, baik teori maupun terapan, seperti industri eksplorasi, penambangan, pengolahan dan kimia. Semuanya ini digunakan untuk menopang industri berat serta industri pertahanan dan keamanan negara.

Akan ada pula pengklasifikasian industri yang merupakan industri strategis. Industri-yang merupakan industri strategis boleh dimiliki oleh pribadi, baik swasta domestik maupun asing. Meski jenis produksinya ada yang terkait dengan hajat hidup orang banyak, seperti energi, dan status industrinya merupakan industri milik umum (public industry), tetapi pengelolaannya tetap ditangani oleh negara. Karena itu, industri-industri strategis ini pada dasarnya akan ditangani oleh negara, bukan oleh individu, atau diprivatisasi untuk kepentingan individu, partai atau kelompok tertentu.

Masalah yang menimpa Krakatau Steel adalah bentuk masalah yang diakibatkan tidak adanya penerapan konsep politik industri dan revolusi industri sesuai dengan Islam. Karakatau Steel menghadapi paradoks akibat kapitalisme neoliberal yang berbasis keuntungan (benefit). Akibatnya, yang dikorbankan adalah rakyat dan negara ini. Seyogyanya kita kembali pada bagaimana Islam mengelola industri, termasuk industri baja. Sehingga keberkahan, kekuatan dan kemandirian menjadi milik kita. Sebagaimana firman Allah SWT: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).Wallahu a’lam bishawwab.