Breaking News

Mengapa Pendidikan Agama Disekulerkan



                     Oleh: Ine Wulansari
  Ibu rumah Tangga dan Pegiat Dakwah

Fokussumatera.com - "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar." (TQS ar-Rum: 41)

Sebagian manusia kadang berani bersikap lancang. Merasa tahu hakikat yang baik dan yang buruk bagi diri mereka. Bahkan merasa lebih tahu dari Allah Swt, lalu dengan berani menyingkirkan petunjuk Allah dan mengajak manusia lainnya untuk mengenyahkan Islam dari kehidupan mereka.

Agama adalah pedoman hidup dan menjadi tolak ukur yang mengatur tingkah laku penganutnya dalam kehidupan sehari-hari. Baik atau tidaknya tindakan seseorang tergantung pada seberapa taat dan seberapa dalam penghayatan terhadap agama yang diyakini. Agama mempunyai peran sangat penting dalam mengatur kehidupan manusia dan mengarahkannya pada kebaikan.

Belum surut mengenai kegaduhan sistem zonasi sekolah, lagi-lagi dunia pendidikan dibuat ramai dengan diwacanakannya penghapusan mata pelajaran agama di sekolah. Tentu hal ini memicu pertentangan dan penolakan dari banyak pihak. Pasalnya, pendidikan agama memegang peranan penting bagi pembentukan akhlak dan moral generasi.

Mengutip dari laman TribunNews.com, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muhadjir Effendy menyatakan akan menghapus pelajaran agama di kelas. Kemendikbud akan menggantinya dengan pendidikan agama di madrasah diniyah, masjid, pura atau gereja. Penjelasan itu terkait rencana pemberlakuan waktu kegiatan belajar lima hari sekolah. kalau sudah mendapat pendidikan agama di luar sekolah, otomatis murid tidak perlu lagi mendapat pelajaran agama di kelas. (Jakarta, Selasa 13 Juni 2017)
Pernyataan senada dilayangkan Setyono Darmono (Chairman Jababeka), yang mengatakan pendidikan agama di sekolah memantik polemik. Ia mengusulkan agar pendidikan agama "dikeluarkan" dari kurikulum. Asumsinya, pendidikan agama secara tidak langsung menanamkan sikap eksklusivisme. Maraknya fenomena radikalisme agama, terorisme, bahkan politisasi agama untuk kepentingan politik praktis. (DetikNews.com, Senin, 8 Juni 2019)

Fakta nyata terbukti selama puluhan tahun tidak pernah ada persoalan dengan agama di negeri ini, khususnya Islam sebagai agama mayoritas. Baru beberapa tahun belakangan saja dimunculkan isu seolah-olah agama (Islam) menjadi pemicu radikalisme. Padahal radikalisme bukanlah persoalan intern dalam Islam. Isu atau tuduhan radikalisme lebih merupakan framing dari pihak luar untuk menyudutkan Islam atau menghalangi geliat umat Islam dan kebangkitannya. Dapat diduga, tujuan akhir dari isu radikalisme adalah untuk semakin menjauhkan Islam dari kehidupan.

Begitupun dengan agenda penghapusan pendidikan agama, sejatinya pendidikan agama merupakan usaha sistematis dalam membentuk pelajar agar mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan umum, pendidikan Islam ingin membentuk pelajar baik jasmani maupun rohani yang harus sesuai dengan arahan dan pandangan Islam untuk menuju terbentuknya kepribadian muslim.

Pendidikan dan ilmu pengetahuan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama Islam, sebab manusia memiliki kecenderungan kebutuhan kepada agama yang diturunkan Allah Swt pada manusia. Naluri beragama merupakan kepastian pada diri manusia. Naluri ini berkaitan erat dengan perasaan manusia yang membutuhkan Sang Khalik Dzat yang Maha Kuasa yang Mengatur seluruh kehidupan, alam  semesta dan manusia. Perwujudan keberadaan perasaan ini bersifat pasti, dan tidak dapat dipisahkan atau dihilangkan. Sebagaimana firman Allah Swt:
"Maka hadapkanlah wajamu dengan lurus kepada agama (Islam) sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (TQS ar-Rum: 30)

Ayat di atas menunjukan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama, sehingga agama merupakan kebutuhan hidup manusia. Hanya saja, berkaitan dengan aspek mendasar ini sering kali manusia kurang memahaminya. Sehingga, kehidupan yang dijalani tidak bermakna. Manusia pada saat ini terjebak pada pola kehidupan sekuler dan liberal dari segala aspek, baik ekonomi, politik, budaya, hukum, pendidikan dan sebagainya. Kegagalan manusia dalam memahami esensi hidup menyebabkan manusia mengalami aliansi terhadap dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan agama yang menjadi landasan kehidupannya.

Dalam sistem sekuler, aturan-aturan Islam hanya ditempatkan dalam urusan individu saja. Agama telah diamputasi dan digunakan hanya pada saat diperlukan. Akibatnya, sistem sekularisme telah melahirkan tatanan kehidupan yang jauh dari nilai-nilai agama. Begitupun dengan pendidikan, adanya indikasi pemisahan agama (sekularisasi) dengan pendidikan yang dapat menjauhkan pelajar dari pemahaman kepada ajaran agamanya.

Seruan untuk menghapus pelajaran agama (Islam) dari kurikulum sekolah jelas merupakan bagian dari mengikuti jejak langkah dan jalan setan. Artinya kita diseru untuk tidak masuk Islam secara menyeluruh (kaffah). Tujuannya untuk memadamkan semangat kaum muslim dan menjauhkan mereka dari Islam. Sangat jelas gagasan ini hanya akan menambah parah kerusakan moral generasi bangsa kelak. Sementara pendidikan yang ada saat ini bersandar pada materialistik semata, dan telah gagal melahirkan manusia shaleh sekaligus menguasai pengetahuan, ilmu dan teknologi. Ada pelajaran agama saja banyak terjadi berbagai macam problematika di masyarakat, khusunya di kalangan pelajar. Apalagi jika pelajaran agama dihapus.

Untuk memperbaiki kondisi pelajar dan kehidupan masyarakat, sudah semestinya pelajaran agama ditambah waktunya sebagai jam pelajaran khusus. Lebih dari itu, untuk menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan dan memperbaiki kehidupan masyarakat, yang harus dilakukan kembali kepada jalan Islam, yaitu dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Inilah sesungguhnya yang menjadi kewajiban umat Islam yang harus segera diwujudkan di tengah-tengah kehidupan.
Wallahu'alam bi ash-shawab