Breaking News

Remaja Dalam Pusaran Kapitalisme



                    Oleh: Ine Wulansari
 Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah

Fokussumatera.com - "Sungguh hari ini manusia telah berubah, menganggap baik apa yang dulu mereka anggap buruk, menghalalkan apa yang mereka haramkan, dan manganggap makruf apa yang dulu meraka anggap mungkar. " (Al-Ilmam Ibnu Bathah) Inilah kenyataan hidup yang sekarang kita hadapi. Hidup di zaman yang penuh fitnah, dan fitnah itu terasa berat untuk dinafikan ketika ia dihadapkan pada remaja kebanyakan. 

Pola kehidupan hedonis menghantarkan remaja pada kubangan arus kapitalisme, yang memaksa mereka untuk tunduk dan patuh pada nilai-nilai sekularisme. Kehidupan yang mengedepankan materi sebagai tujuan utamanya, dan melalaikan dari nilai-nilai yang bersandar pada hukum syara. Kehidupan hedonis yang dipelihara sistem kapitalisme pun menjerumuskan remaja untuk tidak menjaga kehormatannya. Budaya-budaya Barat diadopsi sedemikian gencar, sehingga menjadikan perilaku-perilaku yang bertentangan dengan hukum syara dianggap biasa.

Sistem kapitalisme memiliki visi dan pandangan bahwa kehidupan dunia adalah untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Manusia tidak lebih berharga dari sebuah barang. Maka menjadi kewajaran dalam sistem kapitalis ini remaja menjadi objek bisnis yang diperjualbelikan dan dieksploitasi seperti barang dagangan. Remaja sebagai objek ekonomi  yang dapat dimanfaatkan dan dijerumuskan ke dalam lubang kehinaan. Sehingga harkat, martabat serta kehormatannya mudah digadaikan demi kepentingan duniawi semata.

Seperti yang terjadi saat ini, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) menyebutkan terdapat 29 WNI menjadi korban pengantin pesanan. Sebanyak 13 perempuan berasal dari Kabupaten Sanggau, Kalimatan Barat dan 16 lainnya asal Jawa Barat. Pengantin pesanan menurut dugaan Bobi Anwar Maarif Sekjen (SBMI) di kantor LBH merupakan perdagangan yang terencana. Seperti adanya unsur proses, cara dan eksploitasi. Ada pendaftaran, penampungan, ada pemindahan, sampai dikirim ke luar negeri. Bobi menuturkan korban dijanjikan akan menikah dengan orang kaya asal China dan mendapat iming-iming jaminan seluruh kebutuhan korban dan keluarganya terpenuhi. Namun malang sesampainya di China, korban dipekerjakan dengan durasi waktu yang lama. (DetikNews.com, 23 Juni 2019).

Para korban kerap dianiaya ‘suami mereka dan dipaksa untuk berhubungan seksual, bahkan ketika sedang sakit. Korban pun dilarang berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia. (VOAIndoneia, 24 Juni 2019)
Menelisik fakta-fakta yang terjadi, sungguh remaja dalam pusaran kapitalisme telah menjadi mesin kapital yang berhasil mencabut fitrahnya. Terbukti solusi yang ditawarkan kapitalisme menjadikan remaja, perempuan dan anak sebagai penompang perekonomian yang menjadi jalan keluar yang sesat. 

Bukan kapitalisme namanya jika tidak merusak, sebab yang pertama, ideologi ini diciptakan untuk meratakan kerusakan di muka bumi. Karena asas sekularisme telah menuntun manusia agar menjauhkan agama dari aturan kehidupan. Agama justru dianggap sebagai racun yang menghambat kemajuan. Walhasil, generasi yang tumbuh dalam sistem kapitalisme menjadi generasi yang ingkar kepada syariatNya. Kedua, paham libelarisme (kebebasan) dan permisifisme (seba boleh) otomatis mendorong manusia untuk berbuat sekehendaknya. Tak ada lagi standar hidup, halal-haram, benar-salah, pahala-siksa, surga-neraka, iman-kafir, terpuji-tercela, seperti yang diarahkan agama. Ketiga, perilaku hedonisme (berhura-hura) yang ditumbuh suburkan oleh kapitalisme telah membius para remaja untuk berlomba menikmati kemewahan dan kesenangan duniawi.

Berbeda dengan Islam, yang membebaskan perempuan, remaja dan anak dari tirani kapitalisme dan menjadi solusi yang mengangkat harkat dan martabat manusia, memberi keadilan dan kesejahteraan  tanpa diskriminasi dan tanpa memcabut fitrahnya. Sejatinya remaja haruslah berprestasi, yang mampu melejitkan segala potensi dirinya dan dengan potensi yang dimilikinya dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Prestasi tidak diukur sebatas materi atau ketenaran layaknya kapitalis-sekuler, melainkan pahala dan ridha Allah Swt.

Seperti pada masa kejayaan Islam, remaja-remaja digembleng sejak dini sebagai mutiara umat. Dimulai dengan menerapkan pendidikan agama yang kuat, kemudian dibina sehingga menjadi pribadi haus akan ilmu. Cinta pada Alquran, semangat mempelajarinya, mengamalkannya dan mengajarkannya. Tujuannya bukan untuk memperoleh materi duniawi, melainkan hanya mengharap ridha Allah semata. Sistem pendidikan yang diterapkan negara khilafah masa itu membakar ghirah remaja untuk terus menimba ilmu. Tak ada alunan musik yang menghanyutkan, apalagi berbagai jenis aplikasi yang merusak moral remaja. 

Begitupun dengan tontonan tak berkualitas, yang ada hanyalah semangat  berguru langsung pada teladan kehidupan, yakni para ulama.
Sejarah telah membuktikan betapa Islam melahirkan banyak remaja dalam berbagai bidang. Seperti Abu Ali al-Husein Ibnu Sina, seorang ilmuwan muslim dan filosof besar pada waktu itu. Pada usia 10 tahun sudah hafal Alquran dan di usia 18 tahun sudah mampu menguasai semua ilmu yang ada. Diantaranya keahliannya dalam ilmu kedokteran, fisika, geologi dan mineralogi. Kemudian Imam Syafi'i, yang lahir di Palestina tahun 767M, ia sudah mahir membaca dan menulis arab pada usia 5 tahun. Di usia 9 tahun telah hafiz Alquran 30 juz dan pada usia 10 tahun sudah menghafal banyak hadis, bahkan ia menjadi gruru besar di Masjidil Haram, Mekkah. 

Sungguh sangat disayangkan, remaja-remaja potensial sekaliber Ibnu Sina dan Imam syafi'i sangat sulit kita dapatkan di masa kini dimana sistem kapitalisme masih menjadi pijakan yang mengatur kehidupan. Remaja-remaja berprestasi dan memiliki potensi cemerlang akan bisa terwujud jika dididik dengan suasana keimanan yang kuat dan berada dalam naungan sistem Islam yang diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Ia adalah Daulah Khilafah Rasyidah yang akan mencetak generasi tangguh yang memuliakan Islam.
Wallahu alam bi ash-shawab