Breaking News

Waktu Bagai Pedang


                         Oleh: Sri Yana

Fokussumatera.com - Waktu ibarat pedang begitulah pepatah mengatakan. Bisa menghunus siapa saja yang tidak memanfaatkan waktunya dengan baik. Sehingga sudah sejatinya kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Semasa kita masih diberikan kesempatan hidup untuk banyak melakukan banyak ibadah, maupun berkarya untuk kehidupan ini. Sehingga  hidup ini dapat bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Karena Allah sudah menciptakan manusia dan isinya tidak dengan sengaja, namun Allah ada tujuannya. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (TQS. Adz Dzariyat: 56).

Maka marilah kita berkontribusi dalam dakwah agar waktu yang ada ini menjadi pahala di akhirat kelak. Karena di zaman yang sudah tua ini waktu tak terasa cepat sekali. Hari demi hari terus berganti. Seminggu terasa cepat sekali. Oleh karena itu, seharusnya waktu harus diatur dengan baik agar waktu ini bisa terbagi dengan baik pula. Apalagi tugas sebagai pengemban dakwah yang memiliki agenda yang padat. Tentu saja akan sulit membagi waktu, jika tak pintar memprioritaskan mana yang didahulukan. Sudah sejatinya waktu yang ada ini digunakan hanya untuk beribadah, baik itu ibadah wajib, maupun sunah. Ibadah wajib, contohnya: solat, puasa zakat, mencari nafkah bagi laki-laki, dakwah dan lain-lain. Sedangkan ibadah sunah, contohnya: puasa senin-kamis, bersedekah, dan lain-lain. 

Karena dakwah merupakan ibadah wajib yang wajib diemban oleh setiap muslim, tanpa membedakan status seseorang, miskin atau kaya. Berbuat ma'ruf dan meninggalkan yang mungkar adalah perintah Allah SWT. Sudah sejatinya sesama muslim harus saling mengingatkan untuk berbuat ma'ruf dan meninggalkan yang mungkar. Dengan saling mendakwahi dan menyeru kepada kebaikan itulah, berarti sudah menjalankannya perintah Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyeru (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."(TQS. Ali Imran: 104)

Memang diakui di sistem kapitalisme yang rusak ini, perbuatan mungkar kian terjadi dimana-mana, mulai dari meluasnya aktivitas LGBT, maraknya pelecehan tempat ibadah yang dimasuki anjing, dan lain-lain. Oleh karena itulah dibutuhkannya dakwah agar saling mengingatkan dalam kebaikan. Supaya negeri ini menjadi negeri baldatun toyyibatun warobbun gofur.

Marilah, dengan waktu sisa hidup yang singkat ini, kita benahi diri ini dengan kembali kepada Islam. Manakala terdapat berbagai problematika kehidupan, dengan kembali kepada Al Qur'an dan sunah, bukan kembali kepada hukum buatan manusia, yang hanya menyengsarakan manusia.
Wa'allahu a'lam bish shawab.