Breaking News

Merdeka Tapi Terjajah



               Oleh: Yuli Ummu Raihan
           (Hamba yang belum merdeka)

Fokussumatera.com - 17 Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka nusa dan bangsa Hari lahirnya bangsa indonesia ,Merdeka..

Sering dengar lagu ini kan? Masih hafal? Ya, tak terasa kita kembali akan merayakan hari kemerdekaan yang ke 74 kalinya. Biasanya perayaan itu untuk hal-hal yang positif atau berupa kemenangan, ungkapan syukur atas nikmat dan anugrah termasuk perayaan kemerdekaan karna sudah tidak dijajah lagi.

Tapi apa arti kemerdekaan itu?
Sudahkah kita benar-benar merdeka?
Apakah kita sudah benar-benar terlepas dari penjajahan?

Penjajahan (imprealisme) adalah politik suatu bangsa/ negara untuk menguasai bangsa lain demi kepentingan pihak yang menguasai. Hakikatnya seperti perbudakan sama-sama bentuk eksploitasi secara zalim.

Kalau dulu penjajahan menggunakan kekuatan militer, mengambil alih atau menduduki suatu negara dan membentuk negara kolonial di wilayah jajahan menggunakan kekerasan fisik, mengorbankan  nyawa, harta dan lainnya, itu mengakibatkan perlawanan dari penduduk negeri itu sebagai bentuk gharizatul  baqo mereka.  Menghabiskan energi dan dana bagi para penjajah sehingga mereka beralih dan menempuh metode baru.
Penjajahan gaya baru itu tak mudah dirasakan  karna bukan fisik tapi bisa terindra. Penjajahan ini berupa kontrol ekonomi, politik, budaya, hukum pada negeri yang dijajah.Tapi tujuannya tetap yaitu menguasai  kekayaan negeri yang dijajah hingga tak berdaya dan mudah dikuasai.

Penjajahan gaya baru ini justru jauh lebih berbahaya, karna pihak terjajah tidak sadar telah, sedang, dan terus dijajah.

Bangsa ini tiap tahun gembira sesaat merayakan kemerdekaan. Bersorai sorai seharian dan menanggung sakit sepanjang tahun.  Lomba makan kerupuk yang tidak membuat kenyang, ambil koin sampai belepotan, tarik tambang saat tambang asli kita ditarik hasilnya oleh asing dan aseng, balab karung, bawa kelereng pake sendok, atau yang miris perlombaan unfaedah lainnya.
Bapak-bapak berdaster berjoget ria, perempuan membuka aurat, tabaruj, berlenggak lenggok di muka umum, sampai membuat karnaval seperti Jember Fashion Carnaval yang semua itu jauh dari nilai Islam.

Indonesia sejatinya belum benar-benar merdeka karena kita masih terjajah. Berbagai kebijakan dan aturan di negeri ini semakin menguatkan penjajahan tersebut.
Ironisnya semua dilegalkan oleh undang-undang, kenapa? Karna keputusan politik dinegeri ini banyak dikontrol asing, terutama IMF dan Bank Dunia lembaga internasional yang menjadi alat penjajahan global.

Penjajahan lainnya terlihat dari budaya, lihatlah budaya Barat , Korea, Jepang, India mendominasi di  negeri ini. Bangga bila bisa tampil dan berekspresi seperti mereka. Mulai dari food, fashion, fun, sport, song, seks berkiblat pada mereka.

Kemerdekaan hakiki dalam demokrasi hanya mimpi, dalam Islam kemerdekaan hakiki itu ketika saat manusia terbebas dari penghambaan kepada selain Allah, Hanya untuk Allah, Allah dulu, Allah lagi.

Semua itu akan terwujud jika kita kembali pada aturannya, yaitu memberlakukan syariat islam secara kaffah, bukan mengambil sebagian dan meninggalkan yang lain, seperti menu prasmanan. Karna terbukti hukum selain dari Allah tidak mampu membawa perubahan hanya tambal sulam dan memperburuk keadaan. Karna sumbernya akal yang terbatas dan hawa nafsu.

Firman Allah" Siapa saja yang berpaling  dari peringatanku maka baginya kehidupan yang sempit dan kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS.Thaha :124)

Dan inilah yang kita rasakan saat ini, kesulitan hidup, kemiskinan, maksiat meraja lela, bobroknya akhlak mulai dari rakyat hingga pejabat, dan kerusakan dimana-mana.

Untuk menerapkan aturan Allah dibutuhkan kepemimpinan karna dia yang melakukan pengaturan urusan dunia, membuat kebijakan,dan menerapkan aturan. Kepemimpinan inilah yang saat ini belum ada. Jadi tidak cukup sekedar mengganti pemimpin, Jika hukum yang diterapkan sama, maka tidak akan pernah ada perubahan. Pemimpin tidak sekedar orang yang sholeh individu, baik, mapan, tampan, sampai emak-emak lupa dataran, kalau biasanya para remaja alay yang histeris kalau ketemu idolanya, tapi miris sekarang emak-emak jilbaban ikut rebutan pengen berfoto, atau salaman dengan yang jelas bukan mahram.

Pemimpin dalam Islam itu setidaknya harus memenuhi syarat diantaranya Muslim, lelaki, berakal, merdeka, adil, dan mampu. Yang utama adalah dengan apa ia kelak akan memimpin, aturan seperti apa yang akan ia terapkan.

Ayolah jangan habiskan energi untuk sesuatu yang tak pasti,ada sistem yang telah terbukti dan teruji, yaitu aturan dari illahi robbi. Wallahu a'lam.