Benarkah Kita Mencintai Rasulullah SAW? - Fokussumatera

Breaking News

Benarkah Kita Mencintai Rasulullah SAW?



          Oleh: Yuli Ummu Raihan
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Fokussumatera.com - 12 Rabiul Awal tahun gajah atau bertepatan dengan 20 April 570 M, seorang manusia mulia terlahir ke muka bumi. Manusia agung yang kelak membawa risalah Islam, menjadi rasul terakhir.

Menurut Dr Arkam Dhiya Al-Umuri dalam Sahih Sirah Nabawiyah, secara fisik Rasulullah Saw termasuk manusia paling tampan, berkulit putih bersih, muka bundar, paras yang menarik, kedua matanya lebar, rambutnya ikal tersisir hingga ke ujung telinganya.
Postur tubuhnya sedang, tidak terlalu besar, perawakannya tidak kurus tapi tidak pula gemuk, dadanya lebar, kedua tangan dan kakinya besar, kedua telapak tangannya luas dan lembut, kedua tumitnya tidak gemuk, di atas pundaknya yang sebelah kiri terukir stempel kenabian berupa rambut yang terkumpul seperti kancing, ujar Dr Akram menjelaskan ciri fisik nabi dari berbagai hadis.

Sejak kelahiran nya sudah membawa kebaikan bagi orang-orang sekelilingnya, ia juga bergelar Al Amin yang artinya terpercaya.


Terkait

Menurut Ensiklopedi Islam, pada usianya yang masih 20 tahun Muhammad Saw telah mendirikan Hilful Fudul, sebuah lembaga yang bertujuan untuk membantu  orang-orang miskin dan mereka yang teraniaya.

Dengan segala keindahan fisik dan akhlaknya maka tak heran jika Michael H Hart menulis dalam bukunya The 100, bahwa Muhammad Saw adalah tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia.

Beliau satu-satunya orang yang berhasil menggoreskan tinta perubahan yang gemilang, yang mengubah dunia, pemimpin yang terbaik, dan manusia paling mulia di muka bumi.

Beliau satu-satunya manusia yang terlepas dari dosa karena apapun yang beliau katakan, lakukan semua adalah wahyu bukan nafsu semata.

Beliau juga satu-satunya manusia dengan follower terbanyak sepanjang masa, dicinta milyaran manusia, dan dimuliakan.

Beragam bentuk cinta yang dilakukan manusia untuk membuktikannya, salah satunya dengan memperingati hari kelahiran beliau setiap bulan Maulid.  Hal ini sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap beliau sebagai nabi dan rasul, yang membawa risalah dan menebar rahmat bagi sekalian alam.

Layaknya seorang yang mencinta maka namanya sering disebut, kisahnya selalu diminati, dan apa yang ia suka senantiasa dilakukan, begitupun apa yang beliau benci maka akan ditinggalkan.


Allh berfirman dalam quran surat al-Hasyr ayat 7 yang berbunyi:" Apasaja yang Rasul berikan kepada kalian, terimalah dan Apa saja yang dia larang maka tinggalkanlah."

Maka mencintai Nabi tentunya diwujudkan dengan meleladani seluruh aspek kehidupannya. Mengambil semua sunnahnya, bukan memilih sesuai hawa nafsu manusia, atau sekadar aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja.

Allah berfirman dalam QS Ali Imran  ayat 31:" Katakanlah, "Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah Aku."

Makna ikutilah Aku adalah mengikuti semua yang beliau lakukan. Ibnu Katsir mengaitkan ayat ini dengan hadis yang meriwayatkan bahwa Aisyah ra pernah ditanya oleh Sa'ad bin Hisyam mengenai akhlak Nabi , lalu Aisyah menjawab :" Akhlak  Nabi adalah al-Quran." (HR Ahmad).

Maka meneladani Nabi artinya mengamalkan seluruh isi al-Quran, dan al-Quran bukan hanya berisi akhlak dan ibadah saja tapi seluruh aspek kehidupan.

Jangan mengaku cinta tapi justru tidak meneladaninya, bahkan menolak apa yang ia bawa berupa syariat Islam, Itu bukan cinta.

Sebagai seorang Muslim maka seharusnya kita lebih mencintai  Nabi dari pada dunia, anak, istri, ibu-bapak dan bahkan diri kita sendiri.

Anas bin Malik ra mengaitkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad Saw dengan manisnya iman, yaitu orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya  melebihi apapun, mencintai seseorang karena Allah, dan tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia tidak mau dilempar ke dalam api neraka."(HR Bukhari).

Cinta tidak cukup sekedar ucapan, tapi harus dibuktikan dengan perbuatan. Memperlihatkan rasa cinta biasanya agar mendapat balasan dari orang yang kita cinta, atau hanya sekedar diperhatikan, meski tidak berbalas.

Maka mencintai Nabi juga seharusnya begitu, siap berkorban apa saja, melakukan apa saja demi yang kita cinta. Dan kelak seseorang akan bersama orang yang ia cintai, karena Nabi sudah dijamin masuk surga, maka kita juga berharap kelak akan bersama beliau di sana, bertetangga bersamanya.

Jika kita baca shirah maka akan kita dapati berbagai pengorbanan para sahabat demi kecintaan mereka pada baginda Nabi Muhammad Saw.

Abu Thalhah siap menjadikan dirinya benteng hidup agar beliau tidak tersakiti saat perang Uhud,  Abu bakar yang rela menahan sakit saat kakinya dipatok ular ketika bersembunyi di Gua Tsur, Bilal yang menahan sakit demi tetap mengikuti risalah Nabi, Sumayyah bahkan menjadi mujahidah pertama demi mempertahankan keislamannya, Mus'ab yang rela meninggalkan kenikmatan dunia yang ia miliki, serta menahan siksa dari ibu kandungnya, dan yang lainnya. Mereka berlomba menunjukkan rasa cintanya, berkorban harta, bahkan jiwa,  mendahulukan Rasulullah Saw diatas segalanya.

Siapa saja bisa mengaku cinta, tapi tak semua benar-benar mencintai, alias cinta palsu hanya di mulut saja. Buktinya banyak yang mengaku cinta, tapi justru membenci apa yang  tinggalkannya (sunah).
Rasulullah Saw bersabda: "Siapa yang tidak suka dengan sunnahku maka ia bukan bagian dariku." ( HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, an-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Maka rasa cinta kita harus dibuktikan dengan menjalankan sunnahnya, karena rasa cinta akan menghasilkan kecintaan pada syariahnya.

Imam Syafi'i dalam syairnya berkata:"Andai cintamu benar, niscaya engkau menaatinya, sungguh pencinta itu sangat taat kepada yang dicinta."

Saat ini sistem yang  diterapkan di negeri ini adalah kapitalis yang berazaskan sekuler yaitu memisahkan agama dalam kehidupan. Agama atau sunnah Nabi hanya diterapkan dalam urusan ibadah semata, hanya meledani akhlak, sementara untuk urusan lain justru diatur dengan aturan buatan manusia,bukan aturan Allah yang maha sempurna.
Karena akal manusia terbatas maka wajar aturan yang dihasilkan juga terbatas, tidak mampu menyelesaikan berbagai problematika hidup manusia,  jika pun ada biasanya hanya tambal sulam.

Maka tidak heran kehidupan kita diwarnai berbagai masalah yang tidak pernaj kunjung usai. Kemaksiatan semakin marak, ekonomi memburuk, keamanan sulit dirasakan, kesehatan mahal dan dipersulit, pendidikan tak menghasilkan manusia yang beradab dan problematika lainnya.

Semua ini terjadi karena kita telah meninggalkan syariah Nabi, padahal ini adalah kunci keselamatan hidup manusia di dunia maupun di akhirat.

Maka sudah saatnya kita membuktikan rasa cinta kita, dengan berjuang bersama agar penerapan syariahnya bisa segera dilakukan. Wallahu a'lam.


Baca juga

No comments