Generasi Pemimpin Perubahan - Fokussumatera

Breaking News

Generasi Pemimpin Perubahan



   Oleh : Yanyan Supiyanti, A.Md
(Pendidik Generasi, Member Akademi Menulis Kreatif)

Fokussumatera.com - Mushtafa Al Ghalayaini berkata: "Adalah terletak di tangan para pemuda kepentingan umat ini, dan terletak di tangan pemuda juga kehidupan umat ini."

Dan Imam Syafi'i juga pernah berpendapat bahwa: "Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki iman dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, (maka dia) tidak dianggap hadir (dalam kehidupan)."

Ungkapan di atas secara jelas menggambarkan pada kita begitu pentingnya peran pemuda sebagai pemimpin perubahan. Pemuda yang hebat adalah pemuda yang mampu menjadi pelopor dalam kemajuan bangsanya. Bukan malah menjadi pengekor yang hanya menjadi sapi perah peradaban yang rusak. Seorang pemuda harus memiliki ilmu dan ketakwaan, dan yang pasti mereka harus menjadi kebanggaan umat. Pemuda harus mampu menjadi teladan dalam kebaikan, bukan kejahatan serta mampu memimpin perubahan menuju kebangkitan Islam.

Dilansir oleh m.detik.com pada tanggal 26 Oktober 2018, Alexander Warupangkey (54), guru SMK Ichtus, Manado, Sulawesi Utara, ternyata lebih dulu dikeroyok sebelum ditikam hingga tewas oleh muridnya. Pelaku pengeroyokan sudah ditangkap polisi.

Alexander tewas dalam penanganan medis setelah ditikam muridnya berinisial F, yang tidak terima ditegur karena merokok di lingkungan sekolah. Korban dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Udara dan sempat dirujuk ke Rumah Sakit Malalayang, Manado, dan dinyatakan meninggal dunia.

Sedangkan murid SMK berinisial F mengaku emosi karena teguran gurunya. Dia menikam korban dengan pisau yang diambil dari rumah.

Siswa melakukan kekerasan terhadap guru adalah kasus yang terus berulang dalam sistem pendidikan sekuler saat ini. Degradasi moral yang menjangkiti generasi disebabkan oleh berkembangnya ideologi kapitalisme di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang menyebabkan membudayanya ide liberal, individualis dan hedonis. Hal ini didukung dengan banyaknya tayangan sampah di berbagai media audio visual, yang justru dijadikan panutan dan tuntunan generasi sekarang.

Disadari atau tidak, berbagai serangan budaya dan ideologi dilakukan oleh musuh-musuh negeri ini dan musuh Islam untuk menghancurkan generasi. Para musuh Islam sadar betul bahwa Islam dan kaum muslim akan tetap terpuruk dan hancur apabila moral generasinya dilemahkan dan diracuni dengan berbagai paham liberal. 

Sementara pendidikan karakter yang dijalankan pemerintah makin nampak nyata, yakni output pendidikan sekuler berupa manusia sekuler liberal, tanpa iman, sumber daya manusia 'siap kerja' dan buruh bagi industri kapitalis.

Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki: (1) Kepribadian Islam; (2) Menguasai pemikiran Islam dengan handal; (3) Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu dan teknologi/PITEK); (4) Memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Untuk bisa mencetak generasi yang siap menjadi pemimpin perubahan, dibutuhkan proses pendidikan dan pembinaan yang benar sesuai metode pembinaan yang telah dicontohkan Rasulullah Saw. Lingkungan keluarga juga wajib memberikan pengaruh yang baik bagi perkembangan kepribadian generasi. Masyarakat dan negara pun perlu memberikan suasana kondusif bagi pembinaan generasi. Memberikan pengawasan yang baik, menyuguhi dengan tontonan yang bermutu dan bukan malah memberikan pengaruh buruk. Ilmu yang dilandasi dengan ketakwaan akan menjadikan generasi memiliki peran besar dalam kemajuan sebuah bangsa dan peradaban. Dan tak mustahil, generasi akan menjadi pemimpin perubahan.

Wallahu a'lam bishshawab.[]

No comments