December 31, 2019

Perangkap Toleransi Mengancam Aqidah



       Penulis: Lia Haryati, S.pd.i

Fokussumatera.com - Dilansir ccnindonesia.com pada 10/12/19, Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyebut ucapan selamat merayakan hari Natal kepada umat Kristen dan Katolik tidak akan mengganggu akidah seorang Muslim. Fachrul mengatakan ia hendak menekankan pesan itu dalam sambutan perayaan Natal tahun ini. 

Menurutnya, sah saja jika ada yang meyakini muslim tidak boleh mengucapkan selamat Natal. Tetapi Fachrul meminta masyarakat Indonesia untuk saling menghargai pendapat. 
"Kalau ada orang lain mengatakan selamat merayakan hari natal kepada temannya, ya itu orang punya sikap sendiri juga, dan pasti jelas tidak sedikit pun akan mengganggu akidah orang masing-masing," kata Fachrul.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Tanfidziah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas, dalam dimensi ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), mengucapkan selamat natal tidak mengganggu akidah bagi umat Islam. (tempo.com, 22/12/19).

Berbeda dengan Kemenag dan PBNU, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Mochammad Yunus, meminta umat Muslim tidak mengucapkan selamat Natal kepada umat Nasrani. Yunus berkeyakinan sikap itu merusak akidah, jika merujuk pada berbagai dalil di kitab suci Al-Qur'an dan Hadits.
"Ucapan Natal itu perayaan lahirnya anak Tuhan. Itu masuk wilayah akidah. Ketika kita mengucapkan selamat kepada peringatan itu, sama saja kita memberi selamat atas lahirnya putra Tuhan," kata Yunus. (indozone.id, 24/12/19).

Melihat adanya perbedaan tersebut umat dibuat bingung. Seolah menjadi polemik yang tak ada ujungnya. Apalagi kuat dihembuskan tudingan intoleransi bagi muslim yang tidak mau mengucapkan dan merayakan. Padahal, makna toleransi yang sebenarnya adalah memberikan kebebasan umat lain menjalankan ibadahnya. 

Untuk itu. Penting bagi kaum Muslim mengetahui apa itu perayaan Natal? Sehingga kaum Muslimin tidak latah ikut-ikutan dalam perayaannya. Penting untuk kita ketahui, Natal berasal dari bahasa Portugis, yang berarti kelahiran. Natal dirayakan setiap 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Menurut ajaran sebagian besar denominasi Kristen, Yesus dipandang sebagai Putra Allah (Anak Allah). (wikipedia.org, 2014).

Maka jelas bagi kaum Muslim, haram mengucapkan selamat natal. Sungguh hal ini bertentangan dengan akidah. Firman Allah Swt. Al-Qur'an surat Al Ikhlas ayat 3, '(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.'

'Adapun memberi ucapan selamat (tahniah), pada syiar-syiar kekufuran yang khusus, bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan...' (Imam Ibnu Qoyyim al Jauzi dalam kitab Ahkam Ahl al-Dzimmah, Jilid 1 hal. 441-442).

Islam menjujung tinggi toleransi. Dan ini dicontohkan oleh teladan terbaik kita, Rasulullah Saw. Diriwayatkan dalam Tafsir Al-Qurtubi, 14:425, pada saat pemuka kafir Quraisy yakni Al-Walid bin Mughirah, Al-Ash bin Wail, Al-Aswad ibnul Muthalib, dan Umayyah bin Khalaf datang menemui Rasulullah seraya berkata, “Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu, dan kalian (Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami, kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian dari ajaran agamamu, yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, jika ada dari ajaran kami yang lebih baik, dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.”

Maka, jawaban Allah Swt.,  atas perkataan pemuka kafir Quraisy diturunkannya surat Al-Kafirun ayat 1-6. Menegaskan bahwa tidak ada toleransi dalam hal yang menyangkut akidah. Allah Swt., berfirman:
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (TQS. Al-Kafirun: 6).

Sikap toleransi pun diperkuat oleh Allah Swt., dalam Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah. “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim.” (TQS. Al-Mumtahanah: 8-9).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada Non-Muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah kalian berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.” (Tafsir Alqur’anul ‘Azhim, surat ke 7 ayat 247).

Begitulah makna toleransi yang hakiki. Islam adalah agama toleran. Allah Swt., memerintahkan kepada hamba-Nya untuk bertoleransi pada orang-orang di luar Islam dengan bersikap adil namun bukan dalam praktik akidah. Yakni dengan membiarkan umat agama lain menjalankan ibadahnya, tanpa mengganggunya.

Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Maka, tak sepatutnya tudingan intoleransi mengarah kepada Islam. Justru sebaliknya, dalam kepemimpinan Islam yang berhukum dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah, makna toleransi hakiki akan terwujud. Alhasil, kehidupan antar umat beragama di tengah masyarakat tercipta penuh kedamaian.

Wallahu a'lam bishsowab.

No comments:

Post a Comment



Bofet%2BHP
BOFET HARAPAN PERI JL. SAMUDRA No 1 KOMP. PUJASERA PANTAI PADANG
SELAMAT DATANG DI SEMOGA BERMANFAAT!