Anak Sholih Dambaan Keluarga - Fokussumatera

Anak Sholih Dambaan Keluarga

Share This

               Oleh: Wida Eliana
(Ummu Warobbatul bayt&Member Amk)

Fokussumatera.com - Mempunyai anak yang sholih dan sholihah adalah dambaan setiap orang tua. Namun jika semenjak dini anak tidak dididik dan diarahkan ke arah yang baik, kemungkinan harapan hanya tinggal harapan.

Memang pada umumnya buah jatuh tak jauh dari pohonnya, namun terkadang pepatah itu dipatahkan oleh fakta saat ada orang tua yang berkelakuan buruk dilingkungannya, hal itu tak mempengaruhi tingkah laku anak dan si anak tetap pada pendiriannya untuk selalu berbuat baik. Ada lagi sebaliknya,orang tua baik, mengarahkan ke arah yang baik, hasilnya berbicara lain, jauh dari harapan orang tua.

Bicara soal anak dalam Islam ketika telah baligh disitu anak sudah dituntut untuk dewasa dalam berfikir dan berperilaku sesuai dengan tuntunan Islam.

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku' (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh" (TQS Ash Shaffaat:100). 

Doa yang sering dipanjatkan oleh orang tua tiada lain harapannya menghendaki anaknya menjadi anak yang shalih/shalihah, anak yang menyejukan hati orang tua (Qurrota'ayun). 

Harapan tinggal harapan, di masa sekarang ini anak Indonesia dalam jebakan, yang terlahir dengan kecanggihan teknologi membuat mereka ketagihan berlama-lama dengan gawai (gadget) nya dengan tanpa batasan yang jelas apalagi pemahaman yang benar bagaimana memanfaatkan teknologi ini. Padahal ancaman sedang mengintai mereka tanpa disadari. Berselancar di dunia maya dengan melewati batas ruang dan waktu, seolah dunia ada dalam genggaman.

Apa daya kebanyakan orang tua masih lalai dengan membiarkan anaknya bebas menggunakan gadgetnya padahal ancaman dan bahaya dengan sangat mudah masuk dan mempengaruhi anak-anak. Lihat saja, anak sekolah dasar begitu sangat luwes melakukan aktifitas pacaran tanpa malu. Tentu apa yang mereka lakukan hasil copy paste dari yang mereka lihat. 

Di tengah sulitnya mendidik anak, sangat disesalkan dan disayangkan kita mendengar statemen dari seorang tokoh nasional yang mengatakan bahwa mendidik anak sekolah dasar bagaimana menjaga diri dengan tidak bersentuhan dengan lawan jenis (yang bukan mahrom) seolah lebih dianggap menjadi bibit radikal yang harus mendapat perhatian serius dibanding dengan anak-anak yang terpapar virus liberalisme. Bukannya memikirkan bagaimana agar anak-anak generasi ke depan memiliki akidah yang kuat, taat pada Allah SWT dan RasulNya serta punya bekal keterampilan untuk bekal kehidupannya. Anak yang hendak taat kepada Allah saja dicurigai bahkan dituduh sebagai bibit radikal.

Sedikit mengintip potret anak di belahan dunia lain agar kita pun meluaskan pandangan terhadap kondisi anak di berbagai negara. Anak-anak yang khususnya berada didaerah konflik bahkan peperangan tentu sangat memilukan hati. Jangankan untuk bersekolah dan hidup sejahtera dan makan layak, sekedar untuk bermain saja sungguh sangat sulit mereka lakukan. Pernah mendengar bait senandung lagu nan memilukan hati berjudul Athuna al Thufuli yang berarti beri kami masa kecil. Dari lagu ini begitu mendalam rasa kesedihan dan penderitaan dari anak-anak di Syuriah, Palestina dan anak-anak lainnya sekitar timur tengah.

Kewajiban pertama mendidik anak terletak pada orang tua sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallohu'anhu, Nabi Saw bersabda," Tidaklah ada dari bayi yang lahir melainkan terlahir diatas fitrah. Lalu kedua orang tuanya lah yang menyahudikannya, menasranikannya, atau memajusikannya. Selanjutnya karena manusia adalah makhluk sosial, anak tidak mungkin hanya diam di rumah saja,butuh sekolah,butuh bergaul, maka lingkungan yang kondusif mutlak dibutuhkan.

Membentuk generasi Z yang sholih/sholihah saat ini memanglah tidak mudah meski memang bukan berarti sulit dan tidak bisa, bekali diri kita selaku orang tua dengan keimanan dan ketakwaan yang terus kita kokohkan sebagai bekal mendidik anak. Cintailah Ilmu, sibukkan diri dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat. Jangan mudah terpengaruh dengan label-label yang tak mendasar dan tak bertanggung jawab yang ditujukan bagi mereka yang bergiat dalam kesholihan. 

Disamping giat mencari ilmu tidak lupa menyadari bahwa keberhasilan mendidik anak bukan hanya ditopang oleh orang tua saja. Keberhasilan membentuk anak shalih atau shalihah, dipengaruhi oleh 3 faktor utama; pertama sejauhmana pengetahuan agama yang dimiliki orang tua agar mampu menanamkan akidah, serta mengarahkan anak-anaknya. Kedua, lingkungan untuk tumbuh kembang anak termasuk dunia pendidikan, apakah kondusif atau malah merusak apa yang sudah ditanamkan di rumah. Semisal ide pluralisme yang menganggap semua agama sama. Begitu juga HAM, menjadikan anak bebas untuk berbuat alasan hak asasi minim ketaatan. Ketiga, aturan yang diberlakukan oleh negara, ketika negara dibangun berdasarkan kapitalisme sekular, maka artinya agama dijauhkan dari kehidupan. Bagaimana anak taat pada Allah SWT, keharaman begitu dekat dengan kehidupan mereka; pornoaksi, pornografi, dan tayangan-tayangan yang merusak begitu mudah mereka akses.

Maka dengan demikian antara pendidikan di rumah, sekolah atau lingkungan dengan aturan yang diberlakukan oleh negara mesti selaras.

Wallahu''alam bii ash shawwab

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

.