January 3, 2020

Skandal Jiwasraya, Bukti Kapitalisme Membelenggu Negeri



         Penulis: Eva Rahmawati                             (Pemerhati Sosial)

Fokussumatera.com - Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) satu persatu mulai tumbang. Terkuaknya skandal Jiwasraya menambah panjang daftar masalah perusahaan pelat merah. Dilansir vivanews.com, 29/12/19, kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya dinilai merupakan skandal terbesar di Indonesia, setelah kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau BLBI. Maka dari itu, seluruh pihak penegak hukum mulai dari Kejaksaan Agung, Polri hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai harus 'keroyokan' mengungkap kasus ini.

Hal itu diungkapkan Wakil Sekjen Partai Demokrat, Didi Irawadi dalam diskusi di Jakarta, Minggu, 29 Desember 2019. Bahkan menurutnya, dibutuhkan pula panitia khusus untuk menghindari adanya dugaan yang tidak baik, karena sikap saling menyalahkan.
"Kasus Jiwasraya skandal yang terbesar di Indonesia, setelah BLBI. Mungkin, secara suatu lembaga inilah yang terbesar, minta dana talangan Rp32 triliun," kata Didi.

Beragam pendapat pun muncul mengenai penyebab tumbangnya Jiwasraya. Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu menduga terjadi 'perampokan keuntungan' terutama menjelang tahun politik. Menurutnya perusahaan yang sangat sehat pada tahun 2016-2017, lalu defisit puluhan triliun di tahun berikutnya, berarti ada penyedotan dana yang terjadi. Tidak mungkin hanya risiko bisnis semata. Pasalnya, ekonomi 2018 tidak mengalami krisis seperti 1998. Hal ini sejalan adagium ‘BUMN=sapi perah partai dan rezim penguasa’.

Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko menyebutkan ada dua bisnis model yang membuat Jiwasraya tak berdaya. Pertama, Jiwasraya yang menjanjikan fixed return kepada nasabah dengan rate sampai dengan 14% dan memberikan garansi jangka panjang untuk nasabahnya. Kedua, dikeluarkannya produk JS Saving Plan dengan memberikan garansi imbal hasil yang lebih tinggi. Produk ini membuat perusahaan berinvestasi di instrumen dengan tingkat risiko tinggi (high risk instrument) seperti saham. Yang pada akhirnya terjadi skema ponzi. Padahal skema ini justru membebani kondisi keuangan perusahaan. Pada gilirannya, gagal bayar polis asuransi. Tragis.

Persoalan ini bertambah buruk mengingat BUMN seringkali menjadi tumpuan sponsorship untuk  beragam proyek individu di lingkaran kekuasaan. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengungkapkan, Jiwasraya diketahui melakukan 'make up' laporan keuangan. Hal ini dilakukan demi menjadi sponsor salah satu klub papan atas Liga Inggris, Manchester City.
"Bayangkan 2014, posisi Jiwasraya itu sudah jelek. Dia masih mark up buat jadi support Manchester City. Dikira bisa bayar padahal pakai uang nasabah," kata Arya.

Sebagai informasi, kerja sama Jiwasraya dengan Manchester City dengan Jiwasraya selama 4 tahun. Jadi total biaya yang dibayarkan Jiwasraya ditaksir Rp 38 miliar. Biaya kunjungan Manchester City dibayarkan ketika klub sepak bola ini datang ke Indonesia. Hingga kontrak berakhir Manchester City tak pernah singgah ke Indonesia sehingga biaya tersebut tidak dibayarkan. (CNBCIndonesia.com, 28/12/19).

Skandal Jiwasraya bukan satu-satunya masalah ekonomi yang membelit negeri ini. Persoalan aset rakyat dan modal negara yang dikelola BUMN dari tahun ke tahun terus mengalami kekacauan. Hal ini disebabkan daulat gurita kapitalisme kuat mencengkeram negeri ini. Mulai dari skema pengelolaan BUMN model korporasi. Keterlibatan oligarki pun sudah menjadi rahasia publik. Sebab politik balas budi seolah menjadi tradisi. Bagi-bagi "kue kekuasaan" pun tak bisa dihindari. 

Pengelolaan BUMN layaknya bancakan bagi kepentingan kursi dan partai. Tak cukup sampai di situ, hingga cara-cara mencari untung pun terus dikejar. Tak peduli melanggar syariat-Nya. Meskipun sarat riba dan maisir tetap dilakukan. Jika larangan Allah Swt (baca: riba) sudah terang-terangan dilakukan, tinggal menunggu kehancurannya. Maka wajar jika negeri ini tak kunjung bebas dari krisis.

Problematika yang terus datang menghampiri, negara selalu gagap memberikan solusi. Solusi yang ditawarkan pun tambal sulam, satu masalah terselesaikan muncul masalah baru bahkan kian pelik. Dalam beberapa kasus yang semisal dengan Jiwasraya, jalan keluarnya negara memberi talangan. Talangan yang diberikan dari uang rakyat, untuk menutupi keserakahan oknum pejabat. Dan hal ini terus berulang. Lantas, siapa yang diuntungkan? 

Jika kita melihat secara keseluruhan, ini adalah perampokan besar-besaran terhadap negara secara legal. Hasilnya dinikmati oleh segelintir kaum kapitalis, pemilik bank, elit BUMN dan kursi penguasa. Sungguh, ini sangat menyakitkan. Rakyat kembali jadi korban. Korban dari keserakahan para pengkhianat. Amanah melayani rakyat justru dikhianati demi memperkaya diri dan golongannya. Jiwasraya perusahaan asuransi yang dikebiri oleh jiwa-jiwa yang serakah.

Skandal ini mestinya menyadarkan buruknya kapitalisme. Tidak ada sedikitpun kebaikan dan maslahat bagi rakyat. Sistem bobrok yang dipertahankan oleh mereka yang rakus kursi kekuasaan, dan didapat dari persekongkolan dengan kelompok kapitalis. Untuk itu, umat sudah saatnya mencampakkan sistem kapitalisme yang terbukti hanya membawa kehancuran dan menyengsarakan rakyat.

Problematika negeri ini yang kian pelik, BUMN merugi, harga-harga kebutuhan pokok terus meroket, utang menggunung, daya beli masyarakat menurun, banyaknya pengangguran dan nasib buruh yang jauh dari sejahtera butuh solusi komprehensif untuk segera mengatasinya. Dengan melepaskan belenggu kapitalisme, digantikan dengan aturan yang bersumber dari Dzat Yang Maha Mengatur. Solusinya adalah Islam, karena Islam agama syamil wa kamil. 

Dalam kepemimpinan Islam, bukan hanya mengatur soal ibadah saja, melainkan seluruh aspek kehidupan diatur dengan rinci dan mendalam. Dari bangun tidur hingga mau tidur lagi semua diatur. Hukum yang diterapkan bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kepastian tegaknya hukum-hukum Allah Swt. terjamin. Hal tersebut benar-benar diimplementasikan dalam ranah individu, masyarakat dan negara. Maka, di dalamnya penuh dengan kebaikan dan rahmat bagi semesta alam. Keberkahan pun akan memancar dari langit dan bumi. Hal ini, hanya akan terwujud ketika Islam diterapkan secara kaffah. Firman Allah Swt. 
"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Maidah: 50)

Wallahu a'lam bishshowab.

No comments:

Post a Comment



Bofet%2BHP
BOFET HARAPAN PERI JL. SAMUDRA No 1 KOMP. PUJASERA PANTAI PADANG
SELAMAT DATANG DI SEMOGA BERMANFAAT!