Breaking News

Connect With us

April 8, 2020

Janji Manis Kaum Feminis


Oleh : Hany Handayani Primantara, S.P. (Aktivis Muslimah)


Fokussumatera.com-Kekerasan terhadap perempuan baik secara verbal maupun fisik menjadi sebuah sorotan bagi kaum feminis. Tindakan kekerasan pada perempuan menurut mereka lahir dari sebuah pandangan yang salah tentang perempuan. Anggapan tentang perempuan adalah makhluk nomor dua setelah laki-laki merupakan salah satu sebab mengapa kaum perempuan saat ini tertindas dan mengalami banyak tindak kekerasan. Termasuk ke dalamnya pandangan yang diskriminatif atas nama agama dan sosial budaya.

Kedudukan dan suara perempuan ditengah masyarakat juga seakan tak jadi bahan pertimbangan yang signifikan untuk turut andil dalam membenahi problematika yang ada, minimal masalah bagi kaum perempuan sendiri. Adanya mindset yang kolot bahwa kaum perempuan berada di garda setelah laki-laki menjadikan mereka kaum yang terdikriminasi dalam segala aspek kehidupan. Tak terkecuali aspek kriminalitas yang seakan jadi masalah utama tak kunjung terselesaikan hingga saat ini. Lemahnya fisik kaum perempuan jadi salah satu sebabnya. 

Dari sinilah kaum feminis hadir untuk mengubah itu semua. Berlandaskan sebuah pemahaman baru tentang kesetaraan gender dan pemenuhan hak-hak lainnya sebagaimana laki-laki agar kedudukannya sejajar. Bukan hanya persamaan derajat dari sisi kesempatan memperoleh pendidikan saja yang dituntut, namun aspek ekonomi seperti pekerjaan dan kedudukan sosial di masyarakat. Tak luput dunia perpolitikan juga turut andil dalam mengubah persepsi itu.

Dengan turut andilnya kaum perempuan di ranah politik, menjadi sebuah angin segar bagi kaum perempuan untuk menyelesaikan masalah yang selama ini membelenggu. Berharap dengan partisipasi mereka disana akan mampu atasi semuanya termasuk tindak kekerasan yang semakin hari kian meningkat. Adanya kesetaraan akan menghasilkan sebuah keadilan bagi perempuan yang terus menjadi korban kekerasan. 

Hany Handayani Primantara

Janji manis kaum feminis berupa kesempatan bagi kaum perempuan untuk meraih kekuasaan, adanya keadilan antara laki-laki dan perempuan di segala bidang, terpenuhinya kebutuhan perempuan berupa pendidikan yang setara dengan laki-laki, kesempatan kerja bagi perempuan untuk menjadi sukses dan hilangnya tindak kekerasan bagi perempuan seakan jadi omong kosong belaka. 

Faktanya, ada atau tidak adanya ide kesetaraan gender tak bisa mengubah apapun. Termasuk tindak kekerasan yang menjadi masalah utama bagi kaum perempuan. Seperti yang diungkapkan oleh Komisioner Komnas Perempuan, Marians Amiruddin, beliau mengatakan, data kekerasan terhadap perempuan di Indonesia juga tercatat terus meningkat selama lebih dari satu dekade terakhir. Selama 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792 persen atau delapan kali lipat. (Dilansir dari media online tempo.co).

Wajar saja karena sebenarnya masalah perempuan termasuk di dalamnya tindak kekerasan yang dihadapi kaum perempuan ini bukanlah masalah yang timbul akibat tidak adanya keadilan atau kesetaraan sebagaimana yang diungkapkan kaum feminis. Melainkan permasalahan-permasalahan itu timbul lantaran  penerapan sebuah sistem yang tak menjamin kehidupan perempuan. Sistem sekuler yang membelenggu kaum perempuanlah yang membuat mereka terdzolimi hingga saat ini.

Feminisme adalah gerakan yang fasad (rusak). Bukan hanya dilihat dari sisi historisnya saja namun juga dari sisi idenya. Feminisme lahir akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh penerapan sistem sekuler yang memberikan peluang bagi kaum perempuan untuk dieksploitasi, direndahkan martabatnya dan dihilangkan hak-haknya sebagai manusia yang memiliki hak hidup dan dilindungi. 

Justru dengan digaungkannya ide kesetaraan gender, maka makin jauh sudah peran perempuan yang sesuai dengan fitrahnya. Yakni menjadi sebagai ummu warobbatul bait, peran penting dalam ranah keluarga yang tak bisa diganti oleh siapapun. Dengan berjuangnya kaum ibu di sektor publik, maka akan menguras semua energinya untuk aktivitas yang sebenarnya adalah hal yang mudah bahkan tidak wajib ditunaikan olehnya. 

Akhirnya hak pengasuhan sang anak yang merupakan kewajiban sang ibu pun terabaikan. Ketimpangan pun terjadi seiring berjalannya waktu. Permasalahan pelik di rumah tangga pun akhirnya muncul akibat pandangan yang salah tentang ide kesetaraan gender ini. Bukan kemuliaan yang didapat melainkan kemudhorotan bagi semua pihak.

Karena pada dasarnya Islam sudah lebih dulu memuliakan kedudukan perempuan. Yakni sejak dilarangnya membunuh bayi-bayi perempuan yang baru lahir. Kemudian hadis Rasul yang sangat masyur tentang kedudukan seorang ibu dibandingkan bapak. Larangan seorang perempuan safar tanpa mahrom. Dan berbagai hukum lainnya yang menunjukkan itu semua adalah bukti bahwa Islam sangat menjaga dan memuliakan perempuan. Maka tak perlu lagi menuntut kesetaraan yang bertentangan dengan syariat. 

Wallahu a’lam Bishowab.

No comments:

Post a Comment

About Me



Bofet%2BHP
BOFET HARAPAN PERI JL. SAMUDRA No 1 KOMP. PUJASERA PANTAI PADANG
SELAMAT DATANG DI SEMOGA BERMANFAAT!