March 20, 2020

Olahan Minyak Atsiri Meningkatkan Nilai Jual dan Kesehatan

                                20 Maret 2020
FS.Padang(SUMBAR)-Sejak ditetapkannya Sumatera Barat sebagai sentra minyak Atsiri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar melalui UPTD Pelayanan dan Pengembangan Minyak Atsiri melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kwalitas serta kwantitas minyak atsiri.

Sebagaimana diketahui, Sumbar sangat kaya akan komoditi - komoditi yang dapat menghasilkan minyak atsiri yang berlimpah seperti, Sereh Wangi, Pala, Cengkeh, Nilam, Jeruk Purut, Kayu Manis, Gaharu, Bunga - bungaan serta banyak tumbuhan lain yang menghasilkan minyak atsiri. 

Kepala Disperindag Sumbar, Asben Hendri, SE,MM mengatakan, dengan besarnya potensi Sumatera Barat akan komoditas - komoditas yang dapat menghasikan minyak atsiri itu, sangat perlu kiranya mengedukasi petani serta masyarakat untuk bagaimana menghasikan minyak atsiri yang lebih berkwalitas. 

Seorang peserta pelatihan sedang memasukkan bahan baku Sereh Wangi ke alat Penyulingan

Seperti yang baru saja dilaksanakan beberapa waktu lalu, UPTD Pelayanan dan Pengembangan Minyak Atsiri Disperindag Sumbar mengadakan kegiatan pengolahan minyak atsiri dengan mengundang perwakilan dari masing - masing daerah di Sumbar yang berpotensi menghasilkan minyak atsiri. Selama keberadaan UPTD PPMA telah melakukan pelatihan teknis kepada sebanyak ±150 IKM dan melatih diversifikasi produk untuk ± 100 IKM. 

Kepala UPTD Pelayanan dan Pengembangan Minyak Atsiri Disperindag Sumbar, Ir Hj. Gusriati,MM kepada media ini, Rabu (18/3) lalu mengatakan, kegiatan ini memang sengaja diadakan untuk mengembangkan industri minyak atsiri di Sumbar. Dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk olahan serta menumbuhkan wira usaha baru melalui produk turunan minyak atsiri. 

Selanjutnya Gusriati menjelaskan, kegunaan kandungan yang terdapat pada masing - masing komoditas penghasil minyak atsiri itu juga beragam seperti dari minyak Nilam dapat menghasilkan berbagai macam kosmetik dan parfum. Untuk komoditas Sereh Wangi Gusriati menambahkan, bahwa kandungan yang terdapat pada Sereh Wangi itu mengandung anti bakteri dan antivirus ini membuat minyak serai sangat berguna mengobati pilek, flu dan infeksi bakteri lainnya termasuk dapat dijadikan minyak gosok dan produk lainnya sebagai bahan baku pendukung. 


Gusriati menambahkan, maraknya wabah virus carona (Covic-19) saat ini, membuat produk - produk anti bakteri menjadi langka di pasaran. Nah, beberapa jenis minyak atsiri dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi (serai wangi, nilam, kayu putih, cengkeh dan pala) dalam membuat beberapa produk turunan seperti hand sanitizer, cairan disinfectan pembersih ruangan dan pembersih alat-alat rumah tangga, bahkan pembersih lantai (karbol). Sedangkan air hasil sulingan minyak atsiri (hidrosol) dapat dimanfaatkan sebagai bahan produksi untuk anti bakteri bahkan untuk aroma terapi herbal dan dari hasil kajian Pengarkos (2008) yang dikutip oleh Rajeswara (2012) dan Verms (2012) menjelaskan bahwa hidrosol tersebut dapat ditingkatkan nilai tambah ekonomi. Karena hidrosol ini dapat digunakan sebagai aromaterapi dan kosmetik dan terapi tradisional. Hidrosol berpotensi sebagai produk komersial global. Selanjutnya, hidrosol memiliki variabel jumlah Essential Oil (EO) yang komplek. Pengiat aroma terapi juga menganjurkan agar hidrosol dapat diproduksi secara profesional sehingga tampil menjadi produk utama dan tidak sekedar produk sampingan. 

Saat ini di Sumatera Barat memiliki potensi penghasil hidrosol yang tersebar di Industri Kecil Menengah (IKM) kabupaten/kota. 

IKM yang menghasilkan minyak nilam dan serai wangi diantaranta berada di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Pasaman, Kota Solok, Kabupaten Sijunjung, Kota Sawahlunto, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Padang. Bahkan saat ini salah satu IKM di Kota Padang telah mendapatkan order untuk menyediakan hidorosol ini. 


Sementara untuk memperkaya wawasan bagi IKM industri pengolahan minyak atsiri, UPTD PPMA telah melaksanakan pelatihan untuk Produk hilirisasi yang telah dikembangkan di Sumatera Barat saat ini yakni, Minyak gosok, Sabun batangan, Fresh care, Pencuci piring, Pencuci tangan, Aroma terapi, Sabun Cair serta Essential oil Minyak serai wangi yang memiliki kandungan Citronella yang tinggi dapat dijadikan sebagai Bioaditif bahan bakar minyak. 

Khusus kegiatan pelatihan bioaditif, UPTD PPMA telah melaksanakan pelatihan Aditif BBM adalah suatu bahan yang ditambahkan ke dalam BBM dalam jumlah tertentu sehingga dapat menyempurnakan pembakaran di dalam mesin sehingga mesin dapat berkerja maksimal,” tambahnya. Produk hasil penyulingan serai wangi beberapa IKM di Sumatera Barat telah sesuai dengan SNI setelah melakukan pengujian pada labor terakreditasi. Sehingga minyak hasil penyuilingan dapat ditambahkan ke BBM dengan takaran yang telah ditetapkan.



Sementara itu Kepala Seksi Pengembangan Jasa Teknis UPTD PP Minyak Atsiri, Hendra Yaldi ST saat ditemui dilokasi pelatihan mengatakan, saat ini UPTD PPMA telah mempunyai empat alat suling yaitu, alat suling kapasitas 2500 liter berbahan bakar Solar, alat suling kapasitas 50 liter berbahan bakar gas dan 2 unit alat suling mobile kapasitas 20 liter yang dapat dimanfaatkan masyarakat di Kabupaten/Kota.

“Proses dari bahan baku untuk menjadi minyak atsiri memakan waktu yang beragam tergantung dari masing - masing bahan baku. Kondisi sekarang, UPTD PPMA baru melakukan penyulingan bahan baku nilam, serai wangi, cengkeh, bunga-bungaan serta bahan baku sebagai obat yang dilakukan oleh mahasiswa sekaligus uji coba alat untuk dapat maksimal kedepannya," terang Hendra Yaldi.


Dalam rangka pengembangan UPTD Pelayanan dan Pengembangan Minyak Atsiri ke depannya, UPTD telah memilki 2 (dua) orang konsultan yakni Ir. Indra Kusuma dan Prof. Amri Bahtiar.(Gus/Emil/dan)

No comments:

Post a Comment

SELAMAT DATANG DI SEMOGA BERMANFAAT!