July 30, 2020

Cerita Belajar Daring di Masa Pandemi


Oleh : Yuli Ummu Raihan 
Member AMK dan Pemerhati Kebijakan Publik 

Fokussumatera.com-Apa pun kegiatannya, daring solusinya. Inilah fakta dan fenomena yang terjadi saat ini. Kecanggihan teknologi sangat membantu di masa pandemi ini. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) termasuk salah satu yang dilakukan secara daring.

Banyak cerita dari KBM daring ini baik yang menyenangkan, memprihatinkan, hingga mengundang tawa. Kondisi ini dirasakan oleh semua baik guru, murid, maupun orangtua.

Semua dipaksa beradaptasi dengan metode belajar daring ini. Suka atau tidak semua harus menerima dan pasrah meski kondisi ini tidaklah ideal.

Bagi sebagian masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan belajar daring ini bukan sesuatu yang aneh atau sulit. Karena sebagian besar masyarakat perkotaan memiliki gawai dan kemudahan mengakses internet. Jaringan yang bersahabat dengan beragam pilihan yang ditawarkan provider atau internet kabel. Aktivitas daring baik belajar, bekerja, menawarkan barang dan jasa banyak dilakukan secara daring. Sehingga masyarakat perkotaan tidak begitu sulit  beradaptasi dengan kondisi ini.

Beda halnya bagi masyarakat di pedesaan apalagi daerah terpencil. Gawai adalah barang mewah yang hanya dimiliki kalangan tertentu. Apalagi bagi keluarga dengan ekonomi lemah. Jangankan untuk membeli gawai pintar dan kuota, sekadar memenuhi kebutuhan pokok saja mereka kesulitan. 

Dimas, siswa SMP Negeri 1 Rembang, Jawa Tengah adalah salah satu siswa yang tidak mempunyai gawai sebagai sarana utama belajar daring. Dimas memilih tetap berangkat ke sekolah meski hanya seorang diri.

Cerita lain datang dari Hartono, seorang guru di SD Negeri 1 Desa Cabak, Kecamatan Tlogowungu,  Kabupaten Pati yang harus berkeliling mendatangi rumah murid-muridnya untuk memberikan pelajaran, karena sebagian besar siswa tidak memiliki gawai. Ada yang memiliki, akan tetapi kesulitan membeli kuota internet. Naluri seorang guru membuatnya rela berkeliling ke rumah  muridnya agar siswa tidak tertinggal pelajaran.

Sementara di daerah pegunungan di perbatasan  Sumowono, Kabupaten  Semarang-Temanggung, para siswa harus berjalan hingga satu kilometer dari desanya untuk mencari sinyal agar bisa mengikuti KBM daring. 

Kebutuhan akan akses internet, membuat sebagian orang memanfaatkannya sebagai peluang bisnis. Penyedia jasa internet atau provider berlomba  menawarkan layanan internet. Bahkan layanan internet gratis dijadikan sebagai penarik konsumen bagi sebagian tempat usaha khususnya kuliner. 

Banyak orangtua yang mengeluh  mendampingi anaknya belajar daring. Anak-anak juga rentan stres, karena setiap hari hanya mengerjakan tugas-tugas. Proses belajar daring yang singkat tidak sebanding dengan kemampuan anak dalam mencerna.
Kegiatan mendampingi  anak-anak membuat orangtua khususnya para ibu harus menjadwalkan ulang kegiatan harian. Waktunya terkuras untuk mendampingi bahkan mengerjakan tugas karena anak tidak paham atau karena orangtua tidak sabar menunggu anak mengerjakan sendiri tugasnya.

Masalah lain muncul tatkala orangtua bekerja. Tidak sedikit anak dilepas sendiri mengerjakan tugas tanpa pendampingan. Di sini dibutuhkan rasa tanggung jawab dan kejujuran pada diri siswa. Siapa yang bisa menjamin anak-anak hanya menggunakan gawai untuk aktivitas belajar saja. Tidak ada jaminan mereka bebas dari bahaya pornoaksi dan pornografi. Fisik anak memang di rumah, tapi imajinasi mereka bisa kemana saja.
Intensitas interaksi anak dengan gawai juga dikhawatirkan berdampak pada kesehatan mata dan telinga anak. Karena anak kerap kali menggunakan headset ketika proses belajar daring.

Guru sebagai pihak utama dalam pembelajaran bukan tanpa masalah. Guru dituntut kreatif mengemas pembelajaran, sehingga siswa tidak bosan dan target  pembelajaran  tercapai. Tidak hanya sekadar memberi tugas dan menilai hasilnya tanpa peduli  prosesnya. Mirisnya mereka jadi sasaran emosi para orangtua yang stres mendampingi  anaknya. Guru dianggap tidak menjalankan fungsinya dengan baik karena hanya sekadar memberi tugas.

Orangtua terutama ibu harus mampu  mendampingi anak-anak belajar daring agar kondusif dan menyenangkan. Dibutuhkan manajemen waktu dan emosi agar aktivitas belajar daring ini tidak menjadikan hubungan anak dan orangtua renggang. Karena banyak fakta di lapangan anak menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga baik secara verbal maupun fisik. Semua ini akumulasi dari beban para orangtua yang tidak teratasi dengan baik.

Momen ini justru mengembalikan peran seorang ibu sebagai Madrasatul Ula (Sekolah Pertama) bagi anak-anaknya. Namun, tidak sedikit para ibu yang tergagap dengan aktivitas baru ini. Ibu dituntut mampu menjadi guru dan menguasai semua mata pelajaran. Memahami berbagai metode pembelajaran seperti zoom, Google meet, class room dan lainnya. Bebannya bertambah berat jika ia turut pula membantu suami dalam mencari nafkah karena suami yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Di sini, peran suami dibutuhkan guna menjaga kewarasan ibu.

KBM daring bagi sebagian masyarakat justru menyenangkan. Mereka tidak perlu lagi bermacet ria di jalanan setiap pagi. Para ibu tidak terlalu repot menyiapkan perlengkapan anak untuk sekolah setiap pagi. Semua siswa tetap bisa mengikuti pelajaran meski dalam kondisi kurang fit, karena bisa sambil duduk santai atau bahkan rebahan. Tidak perlu memakai seragam lengkap kecuali bagian atas yang masuk kamera. Bahkan belajar ditemani cemilan kesukaan. 

Sebagian anak merasa senang karena sekarang dibolehkan menggunakan gawai, bahkan tidak sedikit yang difasilitasi gawai sendiri. Mereka lebih sering berinteraksi dengan gawai dibanding bermain dengan temannya.

Belajar daring membuat semua orang melek teknologi. Mereka yang tadinya hanya mengunakan gawai hanya sekadar sebagai alat komunikasi, sekarang menjadikannya sumber informasi dan pengetahuan. Guru, siswa, dan orangtua sama-sama belajar hal baru.

Semua ini akan lebih menyenangkan jika negara berperan besar dalam menyukseskannya.

Akan selalu ada pro dan kontra atas setiap kebijakan. Dari sisi efektivitas mungkin ini solusi di masa pandemi agar pendidikan tetap berjalan dan mampu memutuskan rantai penyebaran Covid -19. Namun, masalah muncul karena tidak semua masyarakat siap dengan kondisi ini.

Masyarakat seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah agar proses KBM daring ini bisa berjalan baik. Masyarakat tidak dibiarkan berjuang sendiri mengikuti kebijakan ini. Pemerintah  seharusnya memberi  kemudahan dan menjamin setiap peserta didik bisa tetap mendapat haknya.

Negara seharusnya mampu membuat kebijakan yang membantu proses belajar daring ini berjalan baik dan efektif. Negara seharusnya menyediakan sarana dan prasarana guna memudahkan proses belajar daring ini. Menyediakan internet murah bahkan gratis dengan jaringan yang menjangkau seluruh wilayah. Atau bisa memanfaatkan televisi nasional untuk memudahkan proses belajar daring. Ini akan lebih mengurangi beban masyarakat. Negara juga seharusnya memberikan pelatihan gratis pada semua guru agar bisa tetap mencapai target pembelajaran meski secara daring. Semua ini tentu akan bisa dilakukan jika negara benar-benar hadir sebagai pelayan bagi rakyatnya bukan sekadar regulator dan fasilitator.  

Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment



Bofet%2BHP
BOFET HARAPAN PERI JL. SAMUDRA No 1 KOMP. PUJASERA PANTAI PADANG
SELAMAT DATANG DI SEMOGA BERMANFAAT!