September 15, 2020

Sejak Pandemi Covid-19 , Bisnis Songket di Sawahlunto Mengalami Kemunduran


FS.Sawahlunto(SUMBAR)-Wabah Covid -19 yang belum juga berakhir hingga saat ini cukup terhadap kehidupan masyarakat terutama sektor perekonomian. Menurunnya daya beli masyarakat diakibatkan perekonomian dari masyarakat yang rendah, sebab ada beberapa sektor penghasilan masyarakat yang stagnan bahkan mundur, misalnya bisnis UMKM dari pengrajin songket dan pedagang songket.

Pedagang Songket Kota Sawahlunto dari Ellen Songket mengaku bahwa bisnis songketnya mengalami keemunduran bahkan mendekati kehancuran. ‘’Sebelum masa pandemi Covid-19 tahun lalu penjualannya bisa mencapai Rp 50 juta per tahun, tetapi sejak pandemi ini untuk mencapai penjualan Rp 10 juta saja sulit. Ditambah lagi karena rendahnya daya beli masyarakat sehingga terjadi over stock, dan pasokan dari pengrajin songket tidak sanggup di order, akibatnya para pengrajin menjual sendiri produk songketnya kepada pemasok yang ada di Bukittinggi, Padang, dan luar Sumbar seperti Pekanbaru dan Medan’’ ujarnya. 

Pedagang songket lainnya Cici Desalucci Songket juga mengatakan bahwa dia mengalami kesulitan dalam menjual barang dagangan songketnya.  Selain daya beli masyarakat rendah ditambah tidak adanya promosi promosi dari Dinas terkait mengenai songket ini. Menurutnya songket Silungkang adalah Icon Kota Sawahlunto kenapa kurang diekspise lagi. Dia sangat berharap agar ada lagi iven- ven nasional di Kota Sawahlunto seperti Sisca yang bisa mendongkrak penjualan songket  macam beberapa tahun sebelumnya. 

Menanggapai hal tersebut Walikota Deri Asta Walikota mengklarifikasi atas harapan dari pedagang songket dan pengrajin songket. ‘’Saya sangat menyetujui songket Silungkang adalah Iconik Kota Sawahlunto, tetapi kita juga menyadari dengan kondisi pandemi Covid -19 ini menyebabkan penurunan dari penjualan songket ini. Mengenai iven-iven nasional untuk tahun ini, untuk simfest memang ditiadakan sebab termasuk pemborosan anggaran dan tidak meningkatkan perekonomian,  tetapi iven nasional Sisca saat ini telah masuk dalam 100 Wonderfull Indonesia sehingga anggaran dananya telah diambil alih oleh Kementerian Pariwisata jadi artinya kita menunggu informasi selanjutnya dari pusat’’ jelas Deri Asta,SH. 

Sementara itu Kepala Kadin Al Kautsar Akbar melalui sambungan telefon Sabtu, 12 September 2020 mengatakan sangat menyayangkan kemerosotan dari pemasaran songket yang merupakan Icon Kota Sawahlunto. 

‘’Sudah menjadi ciri khas dari kota Sawahlunto adalah tenunan songket yang sudah melegenda dan turun temurun bukan saja menjadi profesi tapi budaya masyarakatnya yang selalu memakai songket pada acara adat dan acara besar lainya. Harga jual songket memang lebih mahal dari harga baju atau pakaian lainnya, itu karena pembuatannya yang secara tradisional’’ ujar Al Kausar Akbar.

Alkausar juga katakan bahwa  pihaknya sebagai Ketua Kadin juga telah mengusulkan kepada instansi terkait untuk memberikan arahan dan pelatihan agar pihak Pemko Sawahlunto memberikan solusi atau inovasi terbaru agar songket bisa dimodifikasikan dengan busana atau aksesoris lain macam batik,  sehingga harga jualnya dapat bersaing dan terjangkau dengan masyarakat.

Sementara Dinas  Koperindag Sawahlunto melalui Kadis Koperindag Marwan menyampaikan bahwa pihaknya dalam waktu dekat ini setelah adanya perubahan anggaran yang disahkan oleh anggota DPRD Sawahlunto, akan mengadakan pelatihan kepada pengrajin dan pengusaha songket yang disebut pelatihan diversifikasi (artinya pelatihan terhadap songket dan turunannya),  untuk mendongkrak penjualan songket dan mempromosikan songket. (Z.Z)

No comments:

Post a Comment

SELAMAT DATANG DI SEMOGA BERMANFAAT!