Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

MBG "Menciptakan Beban Generasi" Rapuh

Friday, January 30, 2026 | January 30, 2026 WIB Last Updated 2026-01-30T13:46:13Z


Foto Penulis


Oleh: Warman 

MBG dan Bahaya Negara Terlalu Mengasuh:


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap dipuji sebagai kebijakan progresif yang menunjukkan keberpihakan negara pada masa depan anak-anak Indonesia. 


Dalam narasi resmi, MBG digambarkan sebagai investasi sumber daya manusia menuju Generasi Emas 2045. Namun di balik optimisme itu, terdapat pertanyaan mendasar yang perlu diajukan secara jujur.

Apakah MBG benar-benar membangun generasi tangguh, atau justru menormalisasi ketergantungan sejak dini?


Masalah utama MBG bukan pada tujuan pemenuhan gizi, melainkan pada kerangka ideologis dan arah kebijakan yang menyertainya. 


Negara hadir bukan sebagai fasilitator kemandirian, tetapi sebagai penyedia utama kebutuhan dasar anak. 


Dalam jangka panjang, pola ini berisiko membentuk mentalitas penerima - bukan warga negara yang berdaya/mandiri.


Sejak usia sekolah, anak dibiasakan pada logika bahwa kebutuhan pokok dipenuhi oleh negara, tanpa disertai pendidikan tentang kerja, produksi, dan tanggung jawab sosial. 



MBG menjadi simbol negara pengasuh (nanny state) yang baik hati, tetapi lupa menanamkan nilai kemandirian. Padahal, ketangguhan mental tidak tumbuh dari pemenuhan instan, melainkan dari proses memahami sebab-akibat dalam kehidupan sosial dan ekonomi.


Lebih problematis lagi, MBG berpotensi menggeser makna hak sosial menjadi pemberian politik. Ketika bantuan dipresentasikan sebagai kemurahan negara, bukan sebagai konsekuensi dari keadilan ekonomi, ruang kritik menyempit. 



Penerima dilatih untuk bersyukur, bukan bertanya. Dalam konteks ini, MBG bukan sekadar program gizi, melainkan juga instrumen pembentukan kepatuhan.


Di sisi lain, MBG gagal menyentuh akar persoalan yang membuat anak-anak membutuhkan bantuan pangan sejak awal. 



Kemiskinan struktural, upah rendah, ketimpangan distribusi pangan, dan lemahnya perlindungan pekerja dibiarkan berjalan. 


Negara memilih memberi makan anak di sekolah, sambil membiarkan orang tua mereka tetap terjebak dalam sistem ekonomi yang timpang. 



Anak-anak mungkin kenyang hari ini, tetapi ketidakadilan tetap diwariskan esok hari.


Wacana Generasi  Emas 2045 Malah Rapuh:


Narasi besar tentang Generasi Emas 2045 menjadi rapuh jika hanya bertumpu pada intervensi konsumtif. 


Generasi unggul tidak dibentuk semata-mata oleh kecukupan gizi, melainkan oleh keberanian berpikir kritis, daya juang, dan kemandirian ekonomi. 


Tanpa itu, Indonesia berisiko melahirkan generasi yang sehat secara fisik, namun rapuh secara mental—mudah puas, mudah diarahkan, dan enggan mempertanyakan ketimpangan.


MBG sejatinya tidak perlu ditolak, tetapi harus ditempatkan secara proporsional. Ia semestinya bersifat sementara, kontekstual, dan terintegrasi dengan kebijakan struktural yang memperkuat ekonomi keluarga. 



Negara yang kuat bukan negara yang terus memberi makan, melainkan negara yang memastikan rakyatnya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara bermartabat.


Jika MBG terus dipromosikan sebagai solusi utama tanpa perbaikan sistemik. Maka yang sedang dibangun bukan masa depan yang berdaulat, melainkan ketergantungan yang dilembagakan. 


Dan melahirkan sejarah baru menunjukkan, sebuah bangsa yang menggantungkan hidupnya pada belas kasih negara, yang sulit melahirkan generasi pembebas. (*)



×
Berita Terbaru Update