![]() |
| Sumber foto, Facebook Tim Klewang Polresta Padang. |
Fokussumatera.com - Ada sebuah pepatah yang mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah ini mengingatkan kita bahwa perilaku anak sering kali tidak terlepas dari apa yang dilihat, didengar, dan diteladani dari orang tuanya. Anak bukan hanya mendengarkan nasihat ibunya, tetapi juga merekam setiap perkataan yang keluar dari mulut orang yang paling dekat dengannya.
Ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Dari lisannya, anak belajar berbicara. Dari sikapnya, anak belajar berperilaku. Dan dari keteladanannya, anak belajar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Karena itu, sungguh disayangkan apabila rumah yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya akhlak justru dipenuhi kata-kata kasar, makian, dan carut-marut ucapan yang tidak pantas. Lebih menyedihkan lagi apabila orang tua menganggap perkataan kotor sebagai hal biasa, tanpa menyadari bahwa telinga anak sedang merekamnya, lalu suatu hari mengulanginya di hadapan orang lain.
Belakangan ini, masyarakat ramai membicarakan sebuah kasus yang melibatkan seorang anak dan narkoba di Padang. Berbagai potongan video dan perbincangan di media sosial mengundang perhatian, termasuk mengenai kebiasaan mengucapkan kata-kata kasar.
Kita tentu perlu berhati-hati agar tidak tergesa-gesa menyimpulkan penyebab perilaku seseorang hanya dari tayangan yang beredar. Namun, peristiwa seperti ini semestinya menjadi cermin bagi setiap keluarga: sudahkah kita memberikan teladan yang baik melalui ucapan dan perbuatan kita di hadapan anak-anak?
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 53:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.”
Ayat ini mengajarkan bahwa perkataan bukan perkara sepele. Lisan yang terjaga dapat menyejukkan hati, sedangkan lisan yang tidak terkendali dapat melukai perasaan dan merusak hubungan antar manusia.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini seharusnya menjadi pedoman setiap orang tua. Jangan sampai kita menuntut anak berbicara sopan, sementara kita sendiri gemar memaki. Jangan melarang anak mengucapkan kata-kata kotor, sedangkan di hadapannya kita terbiasa mengeluarkan ucapan yang sama. Anak membutuhkan contoh nyata, bukan sekadar perintah.
Wahai para ibu, jagalah lisanmu. Ketika marah, tahanlah lidahmu. Ketika kecewa, pilihlah kata-kata yang mendidik. Ketika anak melakukan kesalahan, teguran dengan tegas tanpa merendahkan martabatnya. Sebab, anak yang dibesarkan dengan makian belum tentu menjadi anak yang berakhlak baik, sedangkan anak yang dibimbing dengan kasih sayang, ketegasan, dan keteladanan memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh dengan akhlak yang mulia.
Terlebih dalam menghadapi bahaya narkoba, jangan hanya mencaci anak yang terjerumus. Selamatkan mereka, bimbinglah mereka, dan bantulah mereka memperoleh pertolongan yang tepat. Anak yang melakukan kesalahan tetap membutuhkan arahan, pengawasan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Wahai para orang tua, ingatlah: anak tidak hanya mewarisi wajah dan nama kita, tetapi sering kali juga meniru bahasa, kebiasaan, dan perangai kita.
Mari kita wariskan kepada mereka bukan kebiasaan memaki, melainkan tutur kata yang santun. Bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan kesabaran. Bukan kekerasan dalam ucapan, melainkan kasih sayang yang disertai ketegasan.
Sebab, kelak kita tidak hanya ditanya tentang seberapa banyak harta yang kita tinggalkan untuk anak-anak, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalankan amanah mendidik mereka.
Semoga Allah SWT menjadikan rumah-rumah kita sebagai madrasah akhlak, menjadikan lisan para orang tua sebagai sumber kebaikan, dan menjadikan anak-anak kita generasi yang santun tutur katanya, mulia akhlaknya, kuat imannya, serta terpelihara dari bahaya narkoba dan segala bentuk kemaksiatan.
Oleh; HM. Dolok R.
Kuok Sariak Taba, 25102026.
Penulis Kabag. Kesra Sekdakab. Solsel dan Ulama di Solok Selatan
