Breaking News

Wednesday, April 24, 2019

Nasi Padang Hangat Rasa Politik

By : Uqie naima
                     
Fokussumatera.com - Membayangkan kuliner  Indonesia sangatlah banyak ragam jenisnya. Indonesia dengan keanekaragaman suku, budaya, dan bahasa dianugerahi pula keanekaragaman kulinernya. Tiap daerah memiliki makanan khas yang unik dengan rasa variatif nan sensasional. Pun halnya di kota yang masyhur dengan “Jam Gadang” nya. Makanan beraroma rempah nusantara, varian menu yang menggugah selera, nikmat, mengenyangkan, tentu akan mudah dijumpai di saat lapar melanda dan di manapun kita berada, terutama akses yang ramai dikunjungi publik, seperti perumahan, pusat perbelanjaan, perkantoran, dll.  Yup ! Itulah Nasi Padang. Sebagaimana namanya, makanan khas itu berasal dari salah satu wilayah di Indonesia, yakni Padang, Sumatera Barat.

Sayang, sensasi nikmatnya Nasi Padang itu sedikit terganggu dengan wacana yang saya baca di sebuah media online. Jagad media sosial diramaikan dengan munculnya aksi memboikot “Rumah Makan Padang.” Aksi ini diduga lantaran adanya kekecewaan pendukung pasangan Capres nomor urut 01 Jokowi-Maruf Amin kalah telak di Sumatera Barat. 

Akun Facebook bernama Satria mengajak para pendukung Jokowi-Maruf Amin untuk melakukan boikot rumah makan padang.

“Jadi malas makan di Rumah Makan Padang, kayaknya rakyat yang harus membalas. Bangkrutkan semua Rumah Makan Padang,” ujar akun itu seperti dikutip Suara.com, Senin (22/4/2019).

Ajakan dari akun itu mendapatkan respon positif dari pengguna facebook lainnya. Akun Totok Hendriarto misalnya, ia menegaskan akan melakukan boikot itu mulai dari keluarganya sendiri sejak Minggu, 21 April 219.

Kasus seperti di atas bukanlah satu-satunya yang terjadi di Zamrud Khatulistiwa ini. Beberapa bulan bahkan beberapa tahun yang lalu pernah viral tuduhan nasi padang terbuat dari plastik atau produk olahan tepung  (roti) sempat juga diboikot lantaran kekecewaan masyarakat kepada pihak tertentu. Mirisnya, makanan dan pedagang tak berdosa jadi korbannya. 

Ada Apa Dengan Pola Pikir Bangsa Ini ?

Perilaku seseorang tentunya berkaitan dengan pemikirannya. Pikiran yang jernih akan menghasilkan sikap tenang dan santai. Pikiran penuh galau akan melahirkan tindakan tak masuk akal, begitu juga pikiran penuh nafsu amarah akan mengantarkan kepada sikap anarkis dan sadis. Semuanya itu terbentuk dan berkaitan dengan arah pandang kehidupan yang diembannya. Apakah arah pandang kehidupannya berlandaskan materi (kapitalisme), sosialisme ataukah Islam. Ketiganya merupakan faham yang sangat erat pengaruhnya dalam karakter dan sifat seseorang, sehingga disebutlah ketiganya itu sebagai ideologi.

Pemikiran yang berasal dari faham kapitalis/materialis akan membentuk individu pengejar dunia tanpa batas. Tolok ukur kehidupannya adalah materi, aktivitasnyapun tak jauh dari mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan segala cara. Halal maupun haram. Maka, tak heran kemarahan seseorang akan begitu meledak-ledak saat harapan itu urung terwujud. Baik dalam bentuk jabatan, kekayaan maupun individunya (figuritas). Tak perduli orang lain sengsara asalkan keinginannya terpenuhi. Tak ada kepentingan umum dalam kamusnya, melainkan kepentingan pribadi yang dikejarnya.

Tak jauh berbeda dengan faham kapitalis/materialis. Pemikiran seseorang yang terkontaminasi oleh faham sosialispun penuh kekacauan tak terkendali, akan serta merta menjauhkan aturan ‘agama’ dalam benak dan kehidupannya. Hidup tanpa keyakinan kepada Pencipta, terjebak dalam arus kegalauan tak berujung. Kesenangan dunia tak memuaskan, hingga berujung kepada sikap sadisme, kecemburuan tingkat tinggi kepada pemeluk agama, terutama Muslim, menjadikannya individu-individu haus darah. Tengoklah bagaimana sejarah kelam April Mop di Spanyol 1487 M dengan dalangnya Ratu Isabella, G.30.S/PKI di negeri ini atau negeri Muslim Uighur saat ini.

Sedemikian merusaknya kedua faham di atas mencederai pemikiran dan perilaku individunya. Berawal dengan janji manis nan membuai, namun berujung malapetaka tak terperi. Tatanan kehidupan semakin jauh dari kedamaian, kenyamanan apalagi kebahagiaan. Upaya mengejar kesenangan dunia menghilangkan rasa kemanusiaan dan empati. Disadari atau tidak faham itu membenam dalam diri umat manusia, tak terkecuali umat Islam.

Umat Islam yang sejatinya memiliki pedoman shahih, memiliki petunjuk dan penerang hidupnya, ternyata tersesat sangat jauh. Islam hanya dipahami sebagai agama dan ibadah mahdhoh saja (syahadat, shalat, puasa, zakat, haji). Al-Quran dan As-sunnah seharusnya sebagai pedoman, nyatanya mulai tersisih dengan UU buatan manusia. Padahal berabad silam Rasulullah Saw telah berwasiat :

“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selamanya setelah kalian berpegang teguh kepada keduanya, Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. At Thabrani).

Dengan demikian, fakta bahwa kaum Muslim saat ini telah jauh dari ajarannya, saling memfitnah dan membulli sesama saudaranya (se-aqidah) adalah buah dari faham kapitalis dan sosialis yang telah lama ditanam oleh kaum kuffar dengan berbagai bentuk dan kemasan. Muslim yang satu dan Muslim lainnya tak lagi terikat dalam satu ikatan akidah. Terkotak dalam ashobiyah dan organisasi. Al-Quran dan As-Sunnah seakan pajangan tanpa arti.  Cukup dibaca tak perlu dikaji apalagi di terapkan.  Allah SWT berfirman :

“Dan berpeganglah kalian semuanya keoada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai” (TQS. Ali Imran :103).

Tak mengherankan, jika akhirnya kaum Muslim enggan aktivitas sosialnya, ekonomi, politik, hukum dan pemerintahannya memakai aturan Al-Quran dan As-Sunnah. Pemilihan pemimpin yang seharusnya mencontoh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin ternyata lebih bangga memilih ala aturan demokrasi. Walhasil, emosi dan kecurangan mewarnai pemilihan itu. Apa saja bisa dijadikan pelampiasan, termasuk nasi padang. Begitulah watak demokrasi yang lahir dari kapitalisme. Aturan dan faham kufur yang begitu riil merusak tetap dipertahankan. UU peninggalan penjajah seolah lebih mulia dibanding UU Allah dan RasulNya.

Oleh karena itu sudah saatnya kita kembalikan kehidupan Muslim dan umat manusia diseluruh dunia agar taat dan tunduk pada aturan Allah dan RasulNya dalam naungan Institusi Islam, Daulah Islamiyyah.

Wallahu a’lam bi ash-Shawab...

About Me


Bofet%2BHP
BOFET HARAPAN PERI JL. SAMUDRA No 1 KOMP. PUJASERA PANTAI PADANG
SELAMAT DATANG DI SEMOGA BERMANFAAT!