Breaking News

Monday, February 26, 2024

Pembelajaran Berdiferensiasi


Oleh : Feri Fren (Widyaprada BBPMP Prov.Sumbar)

Fokussumatera.com - 
Sebuah analogi yang terjadi pada sekolah hewan, dimana yang bersekolah di sana terdiri dari berbagai macam hewan. Ada gajah, harimau, kelinci, tupai, bebek, elang, monyet dan lain sebagainya. 

Kurikulum dibuat, mata pelajarannya adalah berenang, berlari, memanjat, menggali dan terbang. Semua hewan yang bersekolah di sana wajib mengambil seluruh mata pelajaran tersebut.

Bebek memiiki potensi yang sangat bagus dalam berenang, tetapi  dalam berlari dia sangat lambat. Dipaksakan juga berlatih berlari supaya bisa mencapai nilai tertinggi, akhirnya selaput kakinya robek. Nilai ujian berlarinya rendah dan nilai ujian renangnya pun menjadi lebih rendah. 

Demikian juga halnya dengan tupai, dia memiliki potensi yang sangat bagus dalam memanjat pohon, namun dalam hal terbang tupai tidak bisa. Dipaksakan juga berlatih terbang untuk memperoleh nilai tertinggi, akhirnya tupai terjatuh dan kakinya patah. Sehingga tupai mengalami kegagalan dalam ujian terbang dan memanjat pohon.

Dari contoh analogi sekolah hewan di atas jelaslah bagi kita, bahwa dalam proses pembelajaran tidak bisa dipaksakan. Tidak bisa disamakan antara peserta didik yang satu dengan yang lain, karena mereka memiliki karakteristik, gaya belajar, Intelegensi, minat yang berbeda. Untuk itu proses pembelajaran di sekolah harus memperhatikan karakteristik peserta didik dan berpihak kepada peserta didik.

Di era kurikulum merdeka saat ini pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik tersebut dikenal dengan nama “Pembelajaran Berdiferensiasi”. Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. 

Salah satu filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem “among”, guru harus dapat menuntun peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kodratnya.

Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil untuk peserta didik. Walaupun demikian pembelajaran berdiferensiasi tidak pula berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar. 

Guru perlu berhati-hati dalam melaksanakan pembelajaran yang berdiferensiasi supaya tidak terkesan mendiskriminasikan peserta didik. 
Salah satu ciri-ciri atau karekteristik pembelajaran berdiferensiasi adalah; lingkungan belajar yang menyenangkan dan menantang sehingga mengundang peserta didik untuk mau belajar, kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, penilaian yang otentik dan berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar peserta didik, serta manajemen kelas yang efektif.

Beberapa hal yang harus dilakukan guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas adalah : pertama, melakukan pemetaan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan tiga aspek yakni, kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar peserta didik Data-data ini bisa diperoleh melalui wawancara, observasi, survei menggunakan angket, dan lain sebagainya.

Kedua, merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan dengan memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar. Ketiga, mengevaluasi dan merefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.

Pemetaan kebutuhan belajar merupakan kunci pokok kita untuk dapat menentukan langkah selanjutnya. Jika hasil pemetaan kita tidak akurat maka rencana pembelajaran dan tindakan yang akan kita buat dan lakukan akan menjadi kurang tepat. Untuk memetakan kebutuhan belajar peserta didik kita juga memerlukan data yang akurat baik dari peserta didik, orang tua/wali, maupun dari lingkungannya.

Ada tiga macam strategi diferensiasi, pertama diferensiasi konten, guru perlu menyediakan bahan dan alat sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Kedua diferensiasi proses, proses yang mengacu pada bagaimana peserta didik bisa memahami dan memaknai apa yang dipelajari. Ketiga, diferensiasi produk. Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan peserta didik kepada guru. Sebagai contoh karangan, pidato, rekaman, diagram atau sesuatu yang ada wujudnya.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi akan memberikan dampak positif bagi sekolah, kelas, dan peserta didik itu sendiri. Tidak semua peserta didik bisa kita beri perlakuan yang sama. Jika kita tidak memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, maka akan dapat menghambat peserta didik untuk bisa maju dan berkembang dalam belajarnya.

Dampak dari kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah setiap peserta didik akan merasa dilayani dengan baik, merasa dihargai, merasa aman, ada keadilan dalam bentuk nyata, guru dan peserta didik berkolaborasi, kebutuhan belajar peserta didik terfasilitasi dan terlayani dengan baik. Dengan pembelajaran berdiferensiasi diharapkan akan tercapai kualitas hasil belajar yang maksimal.***

No comments:

Post a Comment

About Me


Bofet%2BHP
BOFET HARAPAN PERI JL. SAMUDRA No 1 KOMP. PUJASERA PANTAI PADANG
SELAMAT DATANG DI SEMOGA BERMANFAAT!