Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Prof. Emil Salim: Ekonomi Tidak Bisa Dipisahkan Dari Daya Dukung Alam

Monday, December 29, 2025 | December 29, 2025 WIB Last Updated 2025-12-29T00:34:51Z
Prof. Emil Salim



Buku "Pembangunan Berwawasan Lingkungan" karya Prof. Dr. Emil Salim merupakan karya fundamental yang meletakkan dasar konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia. 


Beliau menekankan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh dipisahkan dari daya dukung alam.


​Berikut adalah 10 kesimpulan besar dari pemikiran beliau, terutama yang menyoroti kaitan antara kerusakan lingkungan dan rentetan bencana yang kita alami saat ini:


​1. Pembangunan yang Melampaui Daya Dukung (Carrying Capacity)

​Emil Salim menekankan bahwa alam memiliki batas kemampuan untuk pulih. Jika pembangunan (seperti ekstraksi tambang atau pembukaan lahan) dilakukan melebihi kecepatan alam untuk meregenerasi diri, maka keseimbangan akan runtuh. Bencana seperti kekeringan dan krisis air adalah sinyal bahwa kita telah melampaui batas tersebut.


​2. Hubungan Kausalitas Ekonomi dan Ekologi

​Beliau berargumen bahwa kerusakan lingkungan bukan "nasib buruk," melainkan dampak langsung dari model ekonomi yang hanya mengejar angka pertumbuhan (PDB) tanpa menghitung biaya kerusakan alam. Banjir bandang di wilayah hilir seringkali merupakan "biaya tersembunyi" dari penggundulan hutan di wilayah hulu demi keuntungan ekonomi sesaat.


​3. Degradasi Hutan sebagai Pemicu Bencana Hidrometeorologi

​Hutan berfungsi sebagai spons raksasa. Emil Salim menjelaskan bahwa hilangnya tutupan hutan menghilangkan fungsi pengatur tata air. Tanpa akar pohon yang menahan tanah dan menyerap air hujan, siklus hidrologi terganggu, yang mengakibatkan tanah longsor saat hujan lebat dan kekeringan ekstrem saat kemarau.


​4. Eksternalitas Lingkungan yang Terabaikan

​Banyak pelaku pembangunan sering kali mengabaikan "eksternalitas" atau dampak negatif pada pihak luar. Penurunan kualitas udara dan pencemaran sungai dianggap bukan masalah selama industri tetap berjalan. Akibatnya, masyarakat luas menanggung beban kesehatan dan kerugian materiil akibat polusi dan bencana limbah.


​5. Pentingnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

​Dalam pemikirannya, AMDAL bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan instrumen pencegahan bencana. Pengabaian terhadap hasil kajian lingkungan dalam izin pembangunan perumahan atau industri di daerah resapan air menjadi alasan utama mengapa pemukiman modern kini sangat rentan tergenang banjir.


​6. Kemiskinan dan Kerusakan Lingkungan

​Terdapat lingkaran setan antara kemiskinan dan kerusakan alam. Masyarakat miskin yang terdesak sering kali terpaksa merusak lingkungan (seperti menebang pohon atau bertani di lereng curam) untuk bertahan hidup. Tanpa pengentasan kemiskinan, upaya pelestarian lingkungan akan sulit berhasil, dan kerentanan terhadap bencana akan terus meningkat.


​7. Pergeseran dari Eksploitasi ke Konservasi

​Emil Salim mendorong paradigma pembangunan yang tidak hanya menguras sumber daya alam (SDA) yang tidak terbarukan. Ketergantungan berlebih pada energi fosil dan eksploitasi lahan gambut telah meningkatkan emisi karbon, yang mempercepat perubahan iklim dan memicu badai serta cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi.


​8. Tata Ruang yang Tidak Konsisten

​Bencana sering terjadi karena ketidakpatuhan terhadap tata ruang. Pembangunan di kawasan lindung atau sempadan sungai mengubah bentang alam secara drastis. Beliau menekankan bahwa setiap jengkal tanah harus digunakan sesuai fungsinya agar fungsi perlindungan alam terhadap manusia tetap terjaga.


​9. Etika Lingkungan dan Antroposentrisme

​Beliau mengkritik pandangan manusia sebagai pusat alam (antroposentrisme) yang merasa berhak menguasai segalanya. Kerusakan lingkungan terjadi karena hilangnya etika yang menganggap alam sebagai mitra. Ketika manusia merusak mitra hidupnya, alam akan memberikan reaksi balik berupa ketidakseimbangan ekosistem.


​10. Konsep Pembangunan Berkelanjutan (Antar Generasi)

​Prinsip utama beliau adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan hak generasi mendatang. Bencana lingkungan yang masif saat ini adalah bentuk "pencurian" hak hidup anak cucu kita, karena mereka akan mewarisi bumi yang rusak dan penuh risiko bencana.


​Catatan Penting: Prof. Emil Salim sering menekankan bahwa *"Lingkungan hidup bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu."*

×
Berita Terbaru Update