Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Beda Wartawan Dengan Penjilat

Wednesday, March 18, 2026 | March 18, 2026 WIB Last Updated 2026-03-18T08:31:33Z

 

Foto Penulis 

Oleh: Warman

Garisnya sebenarnya tegas - meski dalam praktik sering dikaburkan oleh kepentingan. Wartawan bekerja dengan akal sehat, etika, dan tanggung jawab publik.


Ia bertanya, menguji, dan bila perlu mengganggu kenyamanan kekuasaan. Kritiknya bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menjaga agar kekuasaan tidak menyimpang. 


Wartawan sejati berdiri di atas fakta, bukan di bawah meja kekuasaan.
Sebaliknya, penjilat tidak peduli pada kebenaran. Ia memoles realitas, menyaring fakta, bahkan memutarbalikkan keadaan demi menyenangkan atasan atau penguasa.


Jika wartawan mengabdi pada publik, penjilat mengabdi pada kepentingan.
Wartawan berisiko dimusuhi karena kejujurannya. Penjilat justru diuntungkan karena kepatuhannya.


Profesional wartawan:

Bukan soal label, tapi soal sikap yang konsisten, bahkan ketika itu tidak nyaman sekalipun.

Wartawan profesional bekerja di bawah tiga pijakan utama:

1. Kebenaran di atas segalanya
Ia tidak menulis berdasarkan pesanan, tekanan, atau kedekatan. Fakta diverifikasi, sumber diuji, dan informasi tidak dipelintir demi kepentingan siapapun. Baginya, berita bukan alat propaganda, melainkan cermin realitas.


2. Independensi yang tidak bisa dibeli
Wartawan profesional menjaga jarak dari kekuasaan, uang, dan pengaruh. Ia tidak menjadi kaki tangan pejabat, tidak pula menjadi pengeras suara pemilik modal. Karena sekali independensi dijual, saat itu juga integritas runtuh.


3. Keberanian yang terukur
Berani bukan berarti sembrono. Ia tetap berpegang pada etika, hukum, dan prinsip jurnalistik. Tapi ketika kebenaran harus disampaikan, ia tidak mundur hanya karena tekanan.


Di Indonesia, prinsip ini sejalan dengan Kode Etik Jurnalistik yang ditegakkan oleh Dewan Pers.

Di situ jelas: wartawan harus akurat, berimbang, tidak beritikad buruk, dan tidak menerima suap.


Namun realitasnya, profesionalisme sering diuji: ada yang tergoda akses, ada yang tunduk pada kekuasaan, ada yang menjual idealisme demi posisi.


Di titik itu, publik bisa menilai dengan sederhana: Wartawan profesional menyampaikan apa yang perlu diketahui publik, bukan apa yang ingin didengar penguasa.


Penjilat:

Penjilat itu bukan sekadar sikap. Ia adalah pilihan untuk menukar kebenaran dengan kenyamanan.

Penjilat tidak bekerja dengan prinsip, tapi dengan arah angin. Ia tahu siapa yang berkuasa, lalu menyesuaikan kata-katanya agar selalu terdengar manis di telinga atasan.


Bukan fakta yang ia kejar, tapi posisi. Bukan kebenaran yang ia bela, tapi keuntungan. Ciri-cirinya jelas:

a. Memuji tanpa ukuran - bahkan ketika yang dipuji jelas salah.

b. Menyaring realitas, yang buruk disembunyikan, yang baik dibesar-besarkan.

c. Menghindari kritik — bukan karena tidak tahu, tapi karena takut kehilangan akses.

Mengganti nurani dengan kepentingan, setiap kata dihitung, bukan untuk publik, tapi untuk penguasa.


Penjilat hidup dari kedekatan, bukan dari integritas. Ia bisa terlihat rapi, sopan, bahkan “profesional”, tapi di balik itu, ia mengubur fungsi kontrol yang seharusnya ada.


Dalam konteks informasi dan media, penjilat jauh lebih berbahaya daripada musuh terbuka. Karena musuh bisa dilawan.


Sedangkan penjilat merusak dari dalam membungkus kepentingan dengan wajah seolah-olah kebenaran. Dan ketika penjilat diberi ruang, yang hilang bukan sekadar kritik, yang hilang adalah kejujuran itu sendiri. 


Berbahaya ketika keduanya bercampur:

Media yang seharusnya menjadi pilar demokrasi berubah menjadi alat propaganda. Di titik itu, publik tidak lagi mendapatkan informasi, melainkan ilusi.


Jadi pertanyaannya bukan sekadar “siapa wartawan dan siapa penjilat,” tapi:
siapa yang masih berani berkata benar, dan siapa yang memilih aman dengan membungkam kebenaran. 


Wartawan profesional bukan diukur dari uang dan kekuasaan, namun sejauh mana ia mampu berdiri diatas ketidak nyamanan. (*)



×
Berita Terbaru Update