Fokussumatera.com - Kalau ditanya mata kuliah apa yang paling saya tunggu-tunggu tiap minggu selama semester ini, jujur saya akan jawab: Mata Kuliah Umum Agama. Aneh memang, karena biasanya MKU dianggap "numpang lewat" saja, sekadar pelengkap SKS. Tapi kelas dengan Bapak Faiz Badridduja,S.S.I, M.A, berhasil mengubah persepsi itu, dan saya rasa penting untuk menuliskannya, bukan cuma sebagai tugas, tapi sebagai bentuk terima kasih yang jujur.
Dari pertemuan pertama, saya sudah bisa menebak polanya: setiap minggu akan ada mahasiswa yang presentasi.
Awalnya saya pikir ini format yang biasa saja, bahkan sempat terbayang bakal membosankan karena harus duduk mendengarkan teman sekelas bicara di depan, bergantian, minggu demi minggu. Tapi ternyata di situlah letak keistimewaannya. Karena setelah presentasi selesai, Bapak selalu punya masukan. Bukan sekadar komentar formalitas, tapi masukan yang benar-benar membangun, disampaikan dengan nada tenang, bahkan sering kali sambil tersenyum. Tidak ada nada menggurui yang bikin ciut, apalagi marah-marah.
Padahal kalau dipikir-pikir, wajar saja kalau dosen kadang kesal melihat presentasi mahasiswa yang kurang persiapan atau salah kaprah memahami materi agama yang sensitif. Tapi Bapak Faiz tidak pernah menunjukkan itu. Setiap kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar, bukan aib yang harus dipermalukan di depan kelas.
Saya pribadi merasa cara ini justru membuat saya lebih berani berpendapat.
Dalam diskusi-diskusi soal agama, yang sejujurnya rawan jadi perdebatan panas atau malah bikin orang memilih diam karena takut salah, kelas Bapak Faiz terasa aman. Ada ruang untuk salah, ada ruang untuk bertanya hal-hal yang mungkin terdengar "naif", tanpa takut dihakimi. Ini yang menurut saya jarang saya temui di kelas-kelas lain, apalagi untuk topik seberat agama yang menyentuh keyakinan pribadi masing-masing orang.
Hal lain yang saya apresiasi adalah bagaimana Bapak Faiz memberi tugas. Instruksinya selalu detail, jelas, tidak menggantung. Saya tipe mahasiswa yang gampang bingung kalau instruksi tugas terlalu umum atau multitafsir, dan di kelas ini saya jarang sekali merasa bingung soal apa yang harus dikerjakan.
Rubrik penilaian jelas, ekspektasi jelas, jadi saya bisa fokus ke substansi, bukan menerka-nerka maksud dosen. Belum lagi keramahan Bapak Faiz di luar konteks formal kelas. Sekadar menyapa, menjawab pertanyaan di luar jam kuliah, atau meladeni obrolan singkat setelah kelas selesai, semuanya membuat jarak antara dosen dan mahasiswa terasa tidak terlalu kaku.
Padahal untuk mata kuliah agama, yang temanya bisa jadi berat dan personal, kedekatan semacam ini menurut saya justru krusial. Mahasiswa jadi tidak sungkan untuk benar-benar terbuka.
Kalau boleh jujur secara reflektif, sebenarnya sebelum masuk kelas ini saya agak skeptis. Saya kira mata kuliah agama di kampus akan berakhir jadi ceramah satu arah, hafalan dalil, atau malah jadi ajang dosen menyampaikan pandangan pribadinya dan mahasiswa cuma manggut-manggut. Ternyata dugaan saya meleset jauh. Format presentasi mahasiswa membuat kelas ini lebih terasa sebagai ruang dialog ketimbang ruang indoktrinasi.
Saya belajar bukan cuma dari materi yang disampaikan, tapi juga dari cara teman-teman saya memahami dan mempresentasikan topik yang sama dengan sudut pandang berbeda-beda. Dan Bapak, sebagai fasilitator, cukup piawai menjaga agar diskusi tidak melebar ke arah yang tidak sehat, sambil tetap membuka ruang untuk perbedaan pendapat.
Namun tentu saja, sebagus apa pun sebuah kelas, selalu ada ruang untuk berkembang. Kalau saya boleh memberi masukan, mungkin akan lebih baik jika porsi diskusi dua arah sedikit diperbanyak, tidak melulu terpusat pada sesi tanya jawab setelah presentasi saja.
Beberapa kali saya merasa ada isu menarik yang sebenarnya bisa didalami lebih jauh, tapi waktu keburu habis karena harus lanjut ke presentasi kelompok berikutnya. Barangkali ke depannya bisa dipertimbangkan untuk menyisipkan sesi diskusi bebas atau semacam "circle time" di beberapa pertemuan, di mana mahasiswa bisa saling bertukar pandangan tanpa tekanan format presentasi formal.
Selain itu, akan menarik juga jika sesekali dihadirkan studi kasus dari kehidupan sehari-hari mahasiswa sendiri, bukan cuma teori atau dalil, supaya nilai-nilai agama yang dibahas terasa lebih membumi dan relevan dengan keseharian generasi kami.
Pada akhirnya, satu semester ini bukan cuma soal nilai atau SKS yang harus dikejar.
Saya pulang membawa cara pandang baru soal bagaimana agama semestinya didiskusikan: dengan kepala dingin, hati terbuka, dan rasa hormat pada perbedaan. Dan itu semua tidak lepas dari cara Bapak membawakan kelas ini. Terima kasih, Pak, sudah mengajar bukan hanya dengan ilmu, tapi juga dengan teladan cara bersikap yang tenang dan ramah kepada mahasiswanya.
