Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemuda Harus Berilmu Pengetahuan dan Menguasai Tekhnologi

Wednesday, October 28, 2026 | October 28, 2026 WIB Last Updated 2026-10-28T11:05:22Z


Dani Putra Marlindo Anggota DPRD Dari Partai Golkar 



Oleh: Dani Putra Marlindo


Meskipun telah lebih 78 tahun bangsa Indonesia merdeka namun, dari sisi ilmu pengetahuan kita masih tertinggal dari negara-negara berkembang lain nya yang ada di dunia.



Padahal negara kita merupakan, sebuah negara kepulauan yang termasuk besar dibelahan bumi ini. Dengan jumlah penduduk 280 juta jiwa, indonesia sebenarnya memiliki potensi lebih maju di Asia tenggara.



Ada beberapa Indikator penyebab ketertinggalan kita dari negara-negara berkembang lainnya:


1. Kualitas SDM: Skor PISA pelajar Indonesia masih di bawah rata-rata OECD. HDI kita peringkat 112 dunia tahun 2023/2024, masih di bawah Singapura, Malaysia, Thailand.



2. Ekonomi:Kita masih jual bahan mentah. Nikel, sawit, batubara diekspor mentah, lalu kita impor lagi barang jadinya dengan harga 10x lipat.



3. Korupsi dan Pungli: Ini yang kamu singgung tadi. Indeks Persepsi Korupsi kita masih di skor 34 dari 100. Selama uang negara masih bocor karena dipakai tanpa regulasi dan Pungli masih dianggap biasa, pembangunan tidak akan pernah maksimal.


4. Inovasi: Paten dan riset kita masih sangat sedikit dibanding Vietnam dan Thailand.


Kenapa bisa tertinggal?


Bukan karena orang Indonesia bodoh. Kita punya semua sumber daya. Masalah utamanya ada 3:


1.  Mentalitas: Masih banyak yang cari aman, tidak mau kompetitif, dan toleran dengan kecurangan kecil seperti pungli dan gratifikasi.


2.  Sistem: Regulasi tumpang tindih, birokrasi lambat, dan penegakan hukum yang belum tegas.


3. Pemuda yang belum ambil peran: 68% penduduk kita usia produktif, tapi banyak yang masih jadi penonton, bukan pemain. Sibuk dengan flexing dan viral, tapi sepi karya.



Padahal semua negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, China, bangkitnya karena pemudanya dipaksa disiplin, jujur, dan gila kerja serta gila riset.



Jadi kalau bangsa ini mau maju, kuncinya kembali ke pidato tadi: peradaban tidak akan berubah kalau pemudanya tidak berubah duluan.



Mulai dari hal kecil: berani tolak pungli, berani laporkan penyalahgunaan uang negara, dan berani berkarya bukan hanya mengeluh.





Berangkat dari hal tersebut di momen Sumpah Pemuda 28 Oktober di tahun ini, Anggota DPRD Padang Pariaman Dani Putra Marlindo angkat bicara: Oleh karenanya pendidikan harus menjadi senjata utama pemuda.




Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi prioritas. Kreativitas harus dikembangkan, karakter harus diperkuat, dan semangat kebangsaan harus dijaga.



"Pemuda harus menjadi pelaku pembangunan, bukan sekadar penerima kebijakan; tapi harus menjadi penggerak perubahan, bukan sekadar pengikut arus politik namun harus mampu membuat kebijakan politik.



Di bidang politik, pemuda tidak boleh hanya hadir ketika dibutuhkan untuk meramaikan kampanye, mengangkat popularitas tokoh, atau mengumpulkan suara.



Kata Dani, pemuda harus memiliki kesadaran kritis untuk mengawasi kekuasaan, mengawal demokrasi, dan memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berpihak kepada rakyat.



"Jangan sampai pemuda hanya menjadi alat bagi kepentingan elite, sementara masa depannya sendiri dipertaruhkan oleh keputusan yang tidak pernah mereka ikut tentukan,"ucap Anggota Dewan dari Partai Golkar itu.



Pemuda sekarang adalah cerminan dari masa yang akan datang. Sedangkan pemuda masa depan adalah hasil dari apa yang kita tanam hari ini.



"Jika hari ini kita menanam ilmu, integritas, keberanian, dan kepedulian, maka esok kita akan menuai generasi yang tangguh. Namun, jika hari ini kita membiarkan apatisme, budaya instan, dan pragmatisme tumbuh tanpa kendali, jangan salahkan masa depan ketika bangsa ini kehilangan arah,"kata Putra Batang Anai tersebut.



Dia menambahkan, sejarah tidak menunggu pemuda yang sempurna. Sejarah menunggu pemuda yang mau belajar, berani mengambil tanggung jawab, dan bersedia berjuang untuk kepentingan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.



Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang sedang berkuasa hari ini, tetapi juga oleh siapa yang sedang dipersiapkan untuk memimpin esok hari.



Jangan biarkan pemuda hari ini menjadi generasi yang mewarisi masalah tanpa keberanian menyelesaikannya. 


Jadilah generasi yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang, ketidakadilan menjadi perjuangan, dan cita-cita menjadi kenyataan.



Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya membanggakan masa lalunya, melainkan bangsa yang berani mempersiapkan pemudanya untuk memenangkan masa depan.



"Pemuda hari ini, penentu Indonesia esok hari. Jangan hanya menjadi penonton di negeri sendiri—jadilah pemilik gagasan, penggerak perubahan, dan penjaga masa depan bangsa,"tutup Dani  (*)

×
Berita Terbaru Update